SUARA CIREBON – Organisasi kepelajaran memiliki posisi yang sangat penting sebagai mitra pemerintah daerah dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan, kecakapan digital, serta pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai budaya lokal.
Hal itu dikemukakan, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Sophi Zulfia, saat menerima audiensi Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Cirebon, Senin, 27 Juli 2026.
“Transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan, merupakan sebuah keniscayaan yang harus direspons secara bijaksana. Digitalisasi tidak hanya dipahami sebagai pemanfaatan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar, melainkan juga sebagai upaya membangun literasi digital yang mampu membekali generasi muda menghadapi tantangan era informasi,” ujar Sophi.
Menurut Sophi, perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, para pelajar harus memiliki kemampuan literasi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab.
“Jangan sampai generasi muda hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi tidak memiliki kemampuan menyaring informasi maupun menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” katanya.
Sophi menambahkan, penguatan literasi digital juga menjadi langkah penting untuk membentengi generasi muda dari berbagai dampak negatif perkembangan teknologi, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, hingga penyalahgunaan media sosial.
“Dengan kemampuan literasi digital yang baik, pelajar diharapkan mampu menggunakan ruang digital sebagai sarana belajar, berkreasi, berwirausaha, dan memperluas wawasan,” ujarnya.
Selain mendorong digitalisasi, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan berbasis budaya sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.
“Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal agar identitas daerah tidak tergerus oleh derasnya arus globalisasi,” tegasnya.
Sophi menjelaskan, DPRD Kabupaten Cirebon selama ini terus mendorong optimalisasi implementasi kurikulum berbasis budaya di lingkungan pendidikan sebagai salah satu strategi memperkuat jati diri peserta didik. Namun demikian, implementasi kebijakan tersebut masih memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk organisasi kepelajaran seperti IPNU.
“IPNU memiliki jaringan hingga tingkat pelajar yang sangat luas. Kami berharap organisasi ini dapat menjadi motor penggerak dalam memperkuat pendidikan berbasis budaya, sehingga generasi muda semakin mengenal sejarah, tradisi, bahasa, seni, serta nilai-nilai luhur yang menjadi identitas Kabupaten Cirebon,” katanya.
Menurutnya, pendidikan berbasis budaya bukan sekadar mengenalkan kesenian atau tradisi lokal, melainkan juga menjadi instrumen penting dalam membangun karakter, menanamkan sikap toleransi, memperkuat semangat kebangsaan, serta meningkatkan rasa cinta terhadap daerah dan bangsa. Hal tersebut dinilai semakin relevan di tengah tantangan degradasi moral akibat pengaruh budaya luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















