SUARA CIREBON – Petani di sejumlah desa dan kecamatan Kabupaten Cirebon menghadapi anacaman kekurangan pasokan air menjelang musim tanam ketiga (MT III). Hal itu dipicu menurunnya debit sungai akibat musim kemarau dan dampak El Nino yang melanda kawasan Indonesia.
Terkait hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mengusulkan pembangunan sumur bor dalam sebagai sumber irigasi tambahan.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, mengatakan, menurunnya debit air sungai dan rencahnya curah hujan menyebabkan musim tanam ketiga dibayang-bayangi kurangnya pasokan air bagi petani di sejumlah desa dan kecamatan.
“Kondisi masing-masing desa berbeda-beda tergantung saluran irigasi masing-masing. Namun, rata-rata dalam menghadapi musim tanam ketiga sumber ada ancaman kekurangan pasokan air. Untuk itu kami mengusulkan pembangunan sumur bor sebagai salah satu solusi,” kata Deni Nurcahya, Senin, 4 Agustus 2026.
Menurut Deni, saat ini Distan terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui penerapan sistem tanam benih langsung (Tabela), program yang diinisiasi Kementerian Pertanian. Deni menyebut, teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mempercepat proses tanam dan panen.
“Dengan penerapan yang optimal, produktivitas padi berpotensi mencapai 10 ton per hektare,” katanya.
Deni menyenut, metode tabela menjadi salah satu alternatif di tengah tantangan ketersediaan air.
“Dalam Panen raya yang berlangsung di Blok Sibakung, Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, dengan luas lahan sekitar 30 hektare, produktivitas mencapai 8 hingga 10 ton gabah per hektare,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, uji coba Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) dengan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) di Kabupaten Cirebon melampaui target.
Distan Kabupaten Cirebon, semula distan menargetkan uji coba PM-ASS metode tabela di lahan seluas 8 hektare saja. Namun, uji coba PM-AAS di Masa Tanam (MT) kedua ini metode tabela mencapai total 16,5 hektare se-Kabupaten Cirebon.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Apip Sirojudin mengatakan, meski kebutuhan pupuk untuk PM-AAS lebih banyak dibanding penanaman biasa, Apip memastikan alokasi pupuk subsidi bagi petani yang menerapkan PM-AAS dengan sistem tabela ini akan ditambah sesuai kebutuhan. Tambahan kuota pupuk subsidi tersebut akan diatur melalui mekanisme penyesuaian Rencana Detil Kebutuhan Kelompok (RDKK).
“Kalau biasanya satu hektar itu butuh pupuk urea 225 kg, naik jadi 300 kg dan NPK jadi 400 kg. Untuk benih juga bertambah, biasanya 25 kg menjadi 70 kg. Tapi untuk benih sih ada bantuan dari Kementan, kalau pupuknya enggak,” kata Apip.
Sistem tabela tersebut juga mengharuskan penggunaan pupuk organik subsidi minimal 1 ton untuk satu hektare. Bahkan, pengaplikasian pupuk organik subsidi tersebut bersifat wajib.
Namun dari sisi kelebihan atau keunggulannya, pertanian modern PM-AAS ini bukan saja mempersingkat masa tanam, tapi juga hasil panen yang melimpah. Untuk luas lahan satu hektare, hasilnya bisa mencapai lebih dari 10 ton. Jika dibandingkan dengan sistem tanam biasa, ada selisih sekitar 3 sampai 4 ton. Selain itu, panen juga lebih cepat karena padi tidak terhambat stress.
Keuntungan lainnya, sistem tabela ini lebih hemat tenaga kerja. Petani tidak lagi membutuhkan banyak pekerja karena penanaman benih padi dilakukan dengan menggunakan alat drumsider.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















