SUARA CIREBON – Para petani Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon mengalami krisis air, menyusul kondisi Embung Geyongan yang mengalami kekeringan.
Ketua Forum Petani Desa Geyongan, Mashudi, mengatakan, kekeringan yang dialami Embung Geyongan tidak hanya dipicu faktor cuara ekstrem semata, tetapi juga disumbang adanya kebocoran dinding embung yang terjadi dalam tiga tahun terakhir.
“Kondisi Embung Geyongan yang tidak ada air bisa dilihat dengan mata telanjang oleh siapa pun. Apalagi sudah semenjak tiga tahunan ke sini, kita punya embung, tapi serasa nggak punya embung,” kata Mashudi, Rabu, 5 Agustus 2026.
Mashudi mengaku, sudah tiga tahun berjalan para petani sangat kewalahan dalam memperoleh pasokan air.
“Pengen bisa mengairi sawah susahnya luar biasa, sehingga para petani menggunakan pompa untuk bisa mengairi sawah mereka,” ujarnya.
Kondisi petani, lanjut Mashudi, diperparah dengan adanya serangan hama, mulai tikus, kloor, maupun sundep.
“Sudah sih diserang hama tikus, kloor, sundep, sekarang ditambah-tambah air, embungnya kering tidak ada air sama sekali. Harapan petani minta supaya embung ini segera berfungsi dengan baik, seperti awal mula adanya embung,” tegasnya.
Mashudi menuturkan, awal embung dibangin kedalaman mencapai 4,5 meter. Air pun dapat terisi penuh hingga batas atas permukaan bibir embung.
“Sekarang karena embungnya bocor sehingga banyak air yang terbuang. Sebelum adanya kebocoran satu hari satu malam itu bisa untuk mengairi sawah 3 hektare. Tetapi dengan adanya kebocoran embung, sehingga banyak petani yang tidak kebagian air,” katanya.
Sulitnya pasokan air, lanjut Mashudi, dirasakan petani mulai musim tanaman kedua.
“Kalau tidak bocor, sebetulnya cukup menolong sekali untuk petani. Kurang lebih ada 65 hingga 70 hektare lahan sawah di Desa Geyongan ini. Kalau dikalikan 5 ton padi saja per hektare, sudah berapa ton padi yang hilang?” tanya Mashudi.
Ia menyebut, kualitas padi yang dihasilkan sawah di Desa Geyongan tergolong luar biasa. Padi yang dihasilkan memiliki mata berasnya kecil, kulitnya tipis, jadi rendemenya itu bisa naik dibanding tanah-tanah yang gembur.
“Sawah di sini biasa 2 hingga 3 kali setahun tergantung lokasi. Cuman berhubung sekarang tanam kedua aja udah kayak gini, sehingga petani rasa nggak ada yang berani tanam ketiga,” katanya.
Untuk penanganan jangka pendek petani memanfaatkan pompa dari air irigasi rentang dengan jarak 1,2 kilometer sampai 1,5 kilometer.
“Pompanya harus dua, kalau satu nggak kuat karena jaraknya jauh. Dalam satu hari, satu malam itu cuma dapat setengah bau, menghabiskan lima tabung gas satu pompa. Jadi kalau dua pompa berarti 10 tabung gas. Untuk modal para petani awal sampai mengeluarkan Rp15 juta,” katanya.
Pihaknya telah berkali-kali menyampaikan perihal kebocoran embung kepada petugas terkait, namun hingga kini belum ada tindakan nyata.
“Kalau ada laporan, iya-iyanya aja. Tapi hingga sampai saat ini, harapan petani untuk segera memperbaiki kebocoran embung belum terealisasi,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















