SUARA CIREBON – Pemerintah Desa (Pemdes) Arjawinangun berencana menata ulang alun-alun Arjawinangun menjadi ruang terbuka hijau. Penataan ditargetkan mulai dilakukan setelah proses penertiban dan pengosongan kios pedagang pada November 2026.
Kuwu Arjawinangun, H Maman, mengatakan penataan alun-alun merupakan bagian dari program penataan wilayah yang menjadi visi-misinya sebagai kepala desa. Rencana tersebut juga mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan sesepuh Desa Arjawinangun.
“Alhamdulillah banyak dukungan yang masuk, termasuk dari para sesepuh dan tokoh masyarakat Arjawinangun,” ujar Maman, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurutnya, penataan alun-alun dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan tersebut sebagai fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kondisi alun-alun saat ini dinilai sudah kotor, kumuh, dan mengalami kerusakan.
“Ini juga aspirasi dari masyarakat, karena tempat (alun-alun, red) ini makin kotor, kumuh dan rusak. Jadi akan kita lakukan pembenahan, masa seperti ini terus,” katanya.
Maman menjelaskan, Pemdes Arjawinangun telah menyosialisasikan rencana tersebut kepada para pedagang yang beraktivitas di dalam maupun sekitar alun-alun.
Melalui surat pemberitahuan dan imbauan yang telah disampaikan, pedagang diminta mengosongkan bangunan secara mandiri paling lambat 30 Oktober 2026. Penertiban ditargetkan dilakukan mulai 1 November 2026.
Ia menilai tenggang waktu sekitar dua bulan cukup untuk memberikan kesempatan kepada pedagang mempersiapkan diri sebelum proses penataan dimulai.
Namun, Maman memastikan penataan tidak mengabaikan keberlangsungan usaha para pedagang. Pemdes Arjawinangun menyiapkan lokasi relokasi di kawasan Pasar Arjawinangun.
“Kita akan relokasi ke Pasar Arjawinangun. Para pedagang bisa menempati lahan di depan kios pasar itu,” paparnya.
Ke depan, Pemdes juga membuka peluang bagi pedagang untuk kembali berjualan di sekitar alun-alun dengan konsep lapak bongkar pasang. Lapak tersebut harus dibongkar dan dibawa pulang setelah aktivitas perdagangan selesai.
“Ke depan, boleh jualan lagi di sekitar alun-alun asalkan lapaknya pakai yang bongkar pasang. Jadi kalau selesai berjualan, lapak bisa dibongkar dan dibawa pulang. Sehingga alun-alun tetap bersih dan bagus,” ujarnya.
Maman berharap penataan tersebut dapat mengembalikan fungsi alun-alun sebagai ruang publik yang bersih dan nyaman sekaligus menjadi ikon baru bagi wilayah Arjawinangun.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















