SUARA CIREBON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mencatat 144 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Juni 2026. Temuan kasus tersebut didominasi pasien laki-laki dengan proporsi sekitar 80 persen, sementara perempuan sekitar 20 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih, mengatakan kasus HIV paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, khususnya rentang 25 hingga 49 tahun.
Berdasarkan data semester pertama 2026, tercatat 77 kasus pada laki-laki dan 18 kasus pada perempuan dalam kelompok usia tersebut.
“Paling tinggi itu usia produktif 25 sampai 49 tahun. Dari 144 kasus baru yang ditemukan, sebanyak 42 kasus berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki atau LSL. Selain itu, terdapat lima kasus transgender, lima pekerja seks perempuan atau WPS, dan satu kasus warga binaan pemasyarakatan,” ujar Mona, Jumat, 28 Agustus 2026.
Selain pada kelompok populasi kunci, Dinkes juga menemukan empat kasus HIV pada ibu hamil dan 38 kasus pada pasien tuberkulosis (TBC).
Sebanyak 49 kasus lainnya masuk kategori lain-lain, seperti calon pengantin, masyarakat umum, pasien di luar populasi kunci dan populasi khusus, serta pasien yang menjalani pemeriksaan sebelum operasi.
Belum Ada Kenaikan Signifikan
Mona mengatakan, jumlah kasus yang ditemukan sepanjang semester pertama 2026 sejauh ini belum menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Pada 2025, Dinkes Kabupaten Cirebon mencatat sebanyak 297 kasus HIV. Sementara pada 2024, jumlah kasus yang tercatat mencapai 464 kasus.
Secara akumulatif, jumlah kasus HIV yang tercatat di Kabupaten Cirebon sepanjang 2021 hingga Juni 2026 mencapai 4.173 kasus.
Menurut Mona, pengendalian HIV tidak hanya dilihat dari jumlah kasus yang ditemukan. Pemerintah daerah juga berupaya memastikan kelompok berisiko mendapatkan pemeriksaan atau skrining serta pasien yang dinyatakan positif memperoleh pengobatan.
“Kita tentu berharap jumlah kasus menurun, tetapi semua populasi kunci yang berisiko harus dilakukan skrining. Kami juga memastikan, jika ada yang positif, harus mendapatkan pengobatan,” katanya.
Target Skrining 52 Ribu Orang
Untuk 2026, Dinkes Kabupaten Cirebon menargetkan skrining HIV terhadap sekitar 52 ribu orang yang berasal dari populasi kunci dan populasi khusus.
Hingga semester pertama tahun ini, capaian skrining telah mencapai sekitar 47 persen dari target tahunan.
Saat ini, layanan pemeriksaan HIV telah tersedia di 60 puskesmas dan 14 rumah sakit di Kabupaten Cirebon. Namun, layanan pengobatan belum tersedia di seluruh fasilitas kesehatan tersebut.
Sebanyak 14 puskesmas dan 14 rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta, telah menyediakan layanan pengobatan HIV.
“Untuk skrining, saat ini sudah bisa dilakukan di 60 puskesmas dan seluruh rumah sakit di Kabupaten Cirebon. Namun, layanan pengobatan baru tersedia di 14 puskesmas dan 14 rumah sakit pemerintah maupun swasta,” ujarnya.
Dinkes Kabupaten Cirebon juga menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), komunitas, serta pegiat HIV untuk memastikan pasien yang telah dinyatakan positif tetap menjalani pengobatan antiretroviral atau ARV.
Pengobatan ARV harus dilakukan secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk menekan perkembangan virus dan menjaga kondisi kesehatan pasien.
Selain memberikan pengobatan, Dinkes juga melakukan pemantauan terhadap pasien yang tidak kembali mengambil obat atau tidak melanjutkan pemeriksaan melalui mekanisme loss to follow up.
Pemantauan tersebut dilakukan dengan melibatkan komunitas yang memiliki kedekatan dengan pasien.
Menurut Mona, pendekatan tersebut penting karena masih terdapat pasien yang menutup status HIV akibat stigma dan kekhawatiran mendapat perlakuan diskriminatif dari lingkungan.
“Tidak boleh ada diskriminasi. Orang dengan HIV tetap harus berada di tengah komunitas dan keluarganya serta mendapatkan dukungan,” tegasnya.
Dinkes Kabupaten Cirebon juga terus melakukan edukasi mengenai pencegahan HIV, termasuk menyasar lingkungan sekolah.
Sosialisasi dilakukan bersama Dinas Pendidikan melalui guru bimbingan dan konseling (BK) agar informasi mengenai pencegahan HIV dapat diteruskan kepada para siswa.
“Edukasi terus kami lakukan, termasuk di lingkungan sekolah, agar informasi mengenai pencegahan HIV bisa dipahami sejak dini,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















