SUARA CIREBON – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon mendorong pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memprioritaskan pembelian bahan pangan dari pasar tradisional di sekitar lokasi dapur MBG.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat perputaran ekonomi pedagang lokal sekaligus menjaga aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Kepala Bidang Sarana dan Pelaku Distribusi Disperdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono, mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk program MBG seharusnya tidak seluruhnya dipenuhi dari pasar induk.
Menurutnya, pembelian bahan pangan dari pasar yang berada di sekitar lokasi pelaksanaan MBG dapat memberikan dampak ekonomi langsung kepada pedagang setempat.
“Kami berharap MBG juga belanja di pasar yang terdekat dengan lokasi MBG, karena dengan langkah tersebut bisa membantu perekonomian yang ada di pasar tersebut,” ujar Teguh, Jumat, 28 Agustus 2026.
Bahan pangan seperti daging, ayam, sayuran, dan berbagai kebutuhan lainnya, kata Teguh, pada dasarnya dapat diperoleh dari pasar tradisional di sekitar lokasi dapur MBG.
Dengan pola belanja tersebut, perputaran uang tidak hanya terkonsentrasi di pasar induk, tetapi juga dapat mengalir kepada pedagang kecil di pasar tradisional.
“Kami mengimbau daya beli MBG diarahkan ke pasar di lokasi MBG tersebut atau ke pasar tradisional,” katanya.

Harga Ayam Naik, Disperdagin Kabupaten Cirebon Pantau Pasokan
Dorongan agar MBG berbelanja di pasar tradisional muncul di tengah keluhan pedagang terkait kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama ayam, setelah aktivitas program MBG kembali berjalan.
Namun, Teguh menegaskan kenaikan harga ayam tidak semata-mata dipengaruhi meningkatnya permintaan dari program MBG.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang turut mendorong kenaikan harga, di antaranya harga pakan yang meningkat serta gangguan produksi di tingkat peternak akibat kondisi cuaca.
“Selain ada MBG, pertama faktor pakan mengalami kenaikan. Kemudian di tingkat peternak banyak ayam yang mati karena cuaca. Jadi kemungkinan barangnya berkurang. Karena kematiannya banyak, otomatis harga meningkat,” ungkapnya.
Keterbatasan pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan, lanjut Teguh, dapat mendorong kenaikan harga sesuai mekanisme pasar.
Disperdagin tidak dapat menetapkan harga untuk komoditas yang pergerakan harganya mengikuti mekanisme pasar. Namun, pemerintah tetap melakukan pemantauan untuk mengetahui penyebab kenaikan harga dan mengambil langkah sesuai kewenangannya.
Untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, Disperdagin secara rutin mengikuti pemantauan perkembangan harga melalui rapat pengendalian inflasi yang digelar setiap pekan.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi akan ditelusuri penyebabnya, termasuk kemungkinan adanya kelangkaan barang, gangguan distribusi, maupun faktor lainnya.
“Nanti dari hasil pantauan itu dicari penyebab dan solusinya, apakah karena kelangkaan barang, apakah ada masalah distribusi, atau faktor lainnya,” kata Teguh.

Pengawasan Komoditas dengan HET
Teguh menjelaskan, Disperdagin memiliki kewenangan pengawasan terhadap sejumlah komoditas yang telah memiliki ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Komoditas tersebut di antaranya beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta minyak goreng yang telah memiliki ketentuan harga.
Apabila ditemukan penjualan yang tidak sesuai dengan ketentuan, pemerintah dapat melakukan tindak lanjut sesuai mekanisme yang berlaku.
Sementara untuk komoditas seperti ayam yang harganya mengikuti mekanisme pasar, pemerintah lebih berfokus pada pemantauan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.
Menurut Teguh, pola belanja program MBG juga dapat memberikan dampak terhadap pergerakan ekonomi di pasar tradisional.
Jika kebutuhan bahan pangan program tersebut diserap dari pasar di sekitar lokasi, pedagang lokal berpeluang mendapatkan tambahan permintaan sehingga aktivitas perdagangan di pasar tradisional dapat terus bergerak.
Karena itu, Disperdagin berharap pengelola MBG tidak hanya mempertimbangkan harga dan ketersediaan komoditas, tetapi juga dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi program.
“Kami berharap dan mengimbau daya beli MBG diarahkan ke pasar di lokasi MBG atau ke pasar tradisional, supaya pasar tradisional tetap hidup dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















