SUARA CIREBON – Dua puluh enam tahun menekuni usaha sumpia udang membuat Maksum mampu membawa produk rumahan asal Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, menembus pasar berbagai daerah di Indonesia. Kini, produsen sumpia tersebut mulai membidik pasar ekspor.
Maksum mulai memproduksi sumpia sejak 2000. Dari usaha yang awalnya dikerjakan dengan peralatan sederhana, produksinya kini berkembang dengan dukungan peralatan semi modern. Kapasitas produksi bahkan telah mencapai sekitar satu ton per hari.
“Saya mulai produksi sejak tahun 2000. Dulu masih sederhana, sekarang sudah menggunakan alat semi modern supaya produksinya bisa lebih banyak,” kata Maksum, Kamis, 10 September 2026.
Sumpia produksi Maksum dibuat menggunakan sejumlah bahan, di antaranya tepung terigu, tepung panir, rempah-rempah dan udang rebon. Bahan tersebut diolah melalui beberapa tahapan sebelum menjadi sumpia berukuran kecil yang siap digoreng dan dikemas.
Perkembangan usaha tersebut membuat pemasaran sumpia tidak lagi terbatas di wilayah Cirebon. Produk Maksum telah dikirim ke sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Blitar, Kediri, Tuban, Gresik, Surabaya dan Lamongan. Pasarnya juga telah menjangkau Palembang, Sumatera.
“Jadi bukan cuma melayani permintaan pasar sekitar Cirebon, kami juga merambah ke berbagai daerah,” ujarnya.
Untuk kemasan sekitar lima kilogram atau satu ball, sumpia tersebut dipasarkan dengan harga Rp115 ribu.
Meluasnya pasar membuat keberlangsungan pasokan bahan baku dan distribusi menjadi tantangan tersendiri. Maksum mengaku gangguan pasokan dapat langsung memengaruhi produksi yang saat ini mencapai satu ton per hari.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan keinginannya mengembangkan usaha. Produksi sumpia kini juga melibatkan warga sekitar, mulai dari proses pembuatan hingga pengemasan.
Bagi Maksum, usaha tersebut bukan hanya untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di lingkungan sekitar.
Setelah berhasil memperluas pasar domestik, Maksum kini menargetkan pasar internasional. Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memberikan pendampingan dan fasilitasi agar produknya memenuhi akses dan persyaratan untuk dipasarkan ke luar negeri.
“Saya berharap produksi sumpia ini bisa terus berkembang. Kalau bisa, kami difasilitasi untuk ekspor supaya UMKM bisa bersaing di pasar luar negeri,” katanya.
Sementara itu, Camat Talun Agustino Alamsyah mengatakan Kecamatan Talun memiliki cukup banyak pelaku UMKM dengan produk yang beragam, termasuk usaha kuliner dan camilan.
Pemerintah Kecamatan Talun, kata dia, tengah mendorong tersedianya ruang promosi yang dapat mempertemukan pelaku UMKM dengan masyarakat. Salah satunya melalui rencana kegiatan car free day yang akan melibatkan kelompok pemuda Talun.
“Salah satu upaya yang tengah didorong adalah rencana kegiatan car free day yang akan melibatkan kelompok pemuda Talun,” ujarnya.
Menurut Agustino, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ruang olahraga dan interaksi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya secara langsung.
“Selain mendukung UMKM, kegiatan itu juga diarahkan untuk memperkuat potensi desa wisata di Kecamatan Talun,” ucapnya.
Dengan dukungan promosi dan pengembangan desa wisata, produk UMKM lokal diharapkan semakin dikenal dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi Maksum, pasar domestik yang telah dijangkau menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Dari produksi rumahan di Talun, sumpia udang kini telah beredar di berbagai daerah dan mulai diarahkan menuju pasar dunia.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















