SUARA CIREBON – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Cirebon meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), jumlah kasus ISPA hingga minggu ke-36 tahun 2026 mencapai 205.928 kasus.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon menyebut peningkatan tersebut belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan kasus dan faktor yang memengaruhinya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih, mengatakan pemantauan dilakukan melalui SKDR. Berdasarkan perbandingan periode yang sama, kenaikan kasus juga terjadi pada 2025.
“Jadi, belum masuk dalam masa KLB. Kami punya Sistem Kewaspadaan Dini Respons Wabah. Memang kalau dilihat dari tahun di minggu yang sama, yakni minggu ke-36, pada 2025 juga sudah terjadi kenaikan,” kata Mona, Senin (21/9/2026).
Meski demikian, grafik pemantauan menunjukkan kasus ISPA pada periode yang sama tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Mona mengatakan Dinkes belum dapat memastikan peningkatan kasus tersebut berkaitan dengan paparan abu vulkanik. Sebab, pada periode yang sama juga terdapat fenomena influenza tipe A.
“Kalau dilihat dari grafiknya lebih tinggi dari tahun kemarin. Tapi tidak bisa kita bilang ini pengaruhnya abu vulkanik atau bukan, karena di samping itu juga ada fenomena influenza tipe A,” ujarnya.
Mona menjelaskan, data kasus ISPA yang dihimpun bidang P2P melalui SKDR berbeda dengan data kunjungan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan.
Data SKDR mencatat penyakit tertentu yang dilaporkan puskesmas dan rumah sakit, sedangkan data pelayanan kesehatan mencatat diagnosis pasien yang datang berobat.
“Kalau di P2P batasannya hanya ISPA, pneumonia, TBC dan penyakit saluran pernapasan lainnya. Jadi kami tidak punya data diagnosis setiap pasien yang berkunjung ke puskesmas. Itu berbeda dengan data dari pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Berdasarkan laporan SKDR dari puskesmas dan rumah sakit, 205.928 kasus ISPA tercatat di Kabupaten Cirebon hingga minggu ke-36 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan minggu ke-35 maupun periode yang sama pada 2025.
“Jumlahnya lebih tinggi jika dibandingkan minggu sebelumnya, yaitu minggu ke-35. Lebih tinggi juga bila dibandingkan dengan minggu yang sama tahun 2025,” katanya.
Dinkes terus memantau perkembangan kasus melalui sistem kewaspadaan dini. Kewaspadaan juga diperkuat menyusul potensi paparan abu vulkanik di wilayah Kabupaten Cirebon.
Pemerintah daerah sebelumnya telah menerbitkan surat edaran mengenai kewaspadaan dini dan respons terhadap dampak abu vulkanik. Puskesmas juga diminta mempersiapkan kebutuhan obat-obatan.
“Untuk Early Warning System, kami sudah memiliki Surat Edaran Bupati tentang Kewaspadaan Dini Respons Abu Vulkanik. Puskesmas juga sudah kami imbau untuk mempersiapkan obat-obatan,” tutur Mona.
Di tengah peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan, Dinkes mengingatkan masyarakat meningkatkan langkah pencegahan, terutama terhadap anak-anak.
Mona meminta orang tua tidak memaksakan anak yang sedang sakit untuk mengikuti kegiatan di sekolah. Selain membantu proses pemulihan, langkah tersebut dapat mengurangi risiko penularan kepada siswa lain.
“Untuk anak sekolah, kalau sedang sakit sebisa mungkin tidak usah masuk sekolah dulu supaya tidak menularkan,” tegasnya.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker, mencuci tangan secara rutin, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
“Saluran pernapasan itu pertama menggunakan masker, kemudian sering cuci tangan dan menjauh dari orang yang sakit. Orang yang sakit juga untuk sementara dijauhkan dari orang-orang yang sehat,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















