SUARA CIREBON – Sebanyak 331 peserta pacuan kuda turut memeriahkan tradisi Ider-ideran Memayu Buyut Trusmi di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Minggu, 1 November 2026. Selain pacuan kuda, arak-arakan budaya tersebut juga menampilkan ogoh-ogoh raksasa, tari tradisional, hasil bumi, hingga iring-iringan lamaran.
Kuwu Desa Trusmi Wetan, Anidi, mengatakan Ider-ideran Keramat Trusmi bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Cirebon dan memiliki nilai sakral yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, tradisi tersebut memiliki dua manfaat utama, yakni menggerakkan perekonomian masyarakat dan menjaga kelestarian adat.
“Arak-arakan atau Ider-ideran Keramat Trusmi ini sangat menggeliatkan, pertama dari segi ekonomi dan yang kedua terkait kelestarian adat yang memang sangat sakral,” ujarnya.
Anidi menjelaskan, pelaksanaan Ider-ideran tahun ini melibatkan sekitar 200 peserta dalam rangkaian iring-iringan. Sementara itu, kelompok pacuan kuda yang terlibat mencapai sekitar 331 peserta.
Rombongan menampilkan beragam atraksi, mulai dari iring-iringan sesepuh keramat, tari Bebaksan atau tari perjuangan, ogoh-ogoh, hasil bumi, hingga iringan lamaran. Dari sejumlah penampilan tersebut, ogoh-ogoh menjadi salah satu atraksi yang belakangan semakin populer dan menarik perhatian masyarakat.
Meski demikian, Anidi mengingatkan agar kemeriahan atraksi tidak menggeser unsur-unsur tradisional yang menjadi pakem Ider-ideran.
“Yang sangat booming sekarang memang ogoh-ogoh, tapi tradisi pakemnya itu hasil bumi, lamaran, terus lucu-lucuan, yang memang menjadi ciri khas di sini,” katanya.
Di balik berbagai atraksi tersebut, Ider-ideran Keramat Trusmi juga menyimpan pesan moral dari para leluhur. Salah satunya adalah ajaran untuk menjaga ucapan dan tidak berkata kasar selama mengikuti maupun menyaksikan arak-arakan.
“Sebenarnya leluhur kita ketika Ider-ideran itu berarak-arakan mengajarkan tidak boleh berkata-kata yang kasar,” ungkapnya.
Nilai kebersamaan juga terlihat dari keterlibatan masyarakat di sepanjang jalur arak-arakan. Warga di sejumlah wilayah yang dilalui rombongan secara sukarela membantu kelancaran kegiatan dengan menyediakan minuman dan makanan ringan hingga ikut mengatur jalannya acara.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa maupun penyelenggara, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat.
Rangkaian tradisi ini juga mencakup prosesi Memayu, yakni penggantian atap rumbia pada bangunan keramat. Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi sekaligus penanda menyambut musim penghujan dan musim tanam.
Setelah prosesi tersebut, masyarakat disuguhkan berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti organ, wayang, brai, sintren, hingga sandiwara.
Rangkaian kegiatan yang dimulai pada 31 Oktober 2026 itu dijadwalkan berlangsung hingga 9 November 2026. Pada hari terakhir, agenda kembali diisi dengan prosesi Memayu, pertunjukan hiburan, serta syukuran dan tahlilan.
Anidi berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon memberikan dukungan lebih besar agar tradisi tersebut dapat terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya.
“Saya ingin Memayu dan Ider-ideran Keramat Trusmi tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi tahunan, tetapi juga dikembangkan menjadi tujuan wisata budaya yang menjadi kebanggaan daerah,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















