SUARA CIREBON – Tradisi pembuatan keris di Cirebon yang disebut telah menghilang selama sekitar 200 tahun mulai diupayakan untuk dibangkitkan kembali. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Pameran, Bursa, dan Edukasi Tosan Aji bertajuk Gugah Gaman Cirebon di Pendopo Bupati Cirebon, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon bersama komunitas Seni Kreatif Tosan Aji (Saketi) itu tidak hanya menjadi ruang pamer dan transaksi benda pusaka, tetapi juga sarana edukasi untuk memperkenalkan kembali keris sebagai bagian dari warisan budaya.
Bupati Cirebon, Imron, mengatakan keris Tosan Aji bukan sekadar benda pusaka atau hasil karya para empu pada masa lalu. Di dalamnya terkandung pengetahuan, keterampilan, nilai estetika, filosofi kehidupan, serta perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
“Keris Tosan Aji bukan sekadar benda pusaka atau hasil karya para empu pada masa lalu. Di dalamnya terkandung pengetahuan, keterampilan, nilai estetika, filosofi kehidupan, serta perjalanan sejarah yang menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia,” kata Imron.
Menurutnya, setiap bilah keris memiliki karakter dan keunikan tersendiri. Proses pembuatannya juga mencerminkan ketekunan serta keahlian yang diwariskan lintas generasi.
Karena itu, pelestarian keris tidak cukup hanya dengan menjaga benda-benda pusaka, tetapi juga harus disertai pemahaman terhadap makna, pendokumentasian sejarah, serta pewarisan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda.
Imron menilai Kabupaten Cirebon memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang terbentuk dari pertemuan berbagai tradisi selama berabad-abad. Pameran Gugah Gaman Cirebon menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kekayaan tersebut sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya daerah.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Pemkab Cirebon, lanjutnya, berkomitmen melestarikan dan mengembangkan kebudayaan melalui kolaborasi dengan komunitas, paguyuban, seniman, budayawan, serta berbagai elemen masyarakat.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran juga disampaikan Kasubbag Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Edi Gunawan. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah konkret dalam mendorong pemajuan kebudayaan di Kabupaten Cirebon.
Edi juga menyebut keris telah diakui sebagai warisan budaya takbenda dunia atau Intangible Cultural Heritage (ICH) yang ditetapkan UNESCO pada 2008.
Sementara itu, Lingga Nugraha dari komunitas Saketi menjelaskan, tema Gugah Gaman Cirebon dipilih sebagai simbol kebangkitan kembali tradisi pembuatan keris di Cirebon.
Menurut Lingga, setelah tradisi tersebut lama menghilang, ekosistem perajin keris di Cirebon kini mulai terbentuk kembali. Ekosistem itu mencakup pembuat bilah keris, warangka atau sarung keris, hingga pegangan keris yang dikenal dengan sebutan deder.
“Jadi secara ekosistem seniman keris itu sudah lengkap. Jadi kalau kita bandingkan dengan Jogja dan Solo, tradisinya sudah bisa bersaing dengan Jogja dan Solo di Cirebon,” ujarnya.
Pameran tersebut juga menghadirkan koleksi keris milik para kolektor dari berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Cirebon.
Lingga menyebut keris Cirebon memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari keris daerah lain. Dalam proses pembuatannya, para perajin tetap mempertahankan pakem dan teknik tradisional, termasuk penggunaan tungku berbahan bakar arang.
“Untuk penempaannya sendiri kita menggunakan tungku tradisional yang berbahan bakar arang, kita menggunakan bahan kuno, bahan material meteorit pun kita gunakan,” jelasnya.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, pameran tersebut juga membuka ruang bagi masyarakat dan kolektor untuk mengenal keris dari sisi nilai sejarah maupun koleksi. Lingga menjelaskan, keris sebagai benda antik tidak memiliki standar harga yang seragam karena nilainya bergantung pada karakter, usia, material, keunikan, serta penilaian kolektor.
“Keris itu selayaknya barang antik, jadi enggak ada rate harganya, enggak ada bandrolnya. Kalau memang suka ya terserah harganya berapa,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















