by

Kalau Lockdown, Mudaratnya Lebih Banyak

Honda Cirebon

SUMBER, SC- Perkembangan kasus Covid-19 baik di Kabupaten Cirebon maupun secara umum di seluruh Indonesia mengalami peningkatan. Meski demikian, Pemkab Cirebon belum akan menerapkan status lockdown.

Hal itu disampaikan Bupati Cirebon, Drs H Imron Rosyadi MAg, kepada sejumlah Wartawan di Stadion Watubelah, Sumber, Kamis (26/3/2020). Menurut Bupati, untuk menetapkan status tersebut, Pemkab Cirebon masih menunggu perkembangan dan instruksi dari pemerintah pusat.

“Memang perkembangan (Covid-19 di Kabupaten Cirebon) meningkat, secara nasional pun meningkat. Tapi kami di Kabupaten Cirebon belum akan menerapkan lockdown,” ujar Imron.

Sohib Suzuki Cirebon

Pasalnya, kata Bupati, jika di Kabupaten Cirebon ditetapkan status lockdown, Dia menilai akan lebih banyak Mudaratnya. “Karena kalau lockdown itung-itungannya itu mudaratnya lebih besar. Mudah-mudahan di Kabupaten Cirebon tidak sampai terjadi lockdown,” terang Imron.

Di tempat yang sama, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Nanang Ruhyana mengatakan, jumlah PDP di Kabupaten Cirebon masih sebanyak 22 orang dengan jumlah pasien positif satu orang. “Yang positif perkembangannya semakin membaik dan sudah tampak sehat. Tapi memang hasil pemeriksaan laboratorium masih belum negatif,” ucap Nanang.

Sedangkan untuk PDP yang dirawat di RS Pelabuhan dan meningal dunia, kata Nanang, hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan negatif. “Pasien yang meninggal di RS Pelabuhan dan sudah dikuburkan itu dinyatakan negatif, cuma dia memang PDP,” terangnya.

BACA JUGA: ODP dan PDP Hasil “Impor”

Menurut dia, jenazah pasien tersebut diserahkan ke pihak keluarga. Namun untuk proses pemakamannya, dikawal ketat oleh tim Gugus Tugas. Hal itu dilakukan agar jangan sampai terjadi seperti di luar Kabupaten Cirebon. Dimana keluarga pasien bebas menyentuh jenazahnya.

“Kalau pemakaman sudah dianjurkan sesuai protokol yang sudah ada di Covid-19, walaupun tidak positif Corona. Itu sudah jelas, jadi pasien jangan disentuh,” paparnya.

Untuk pasien yang meninggal di RS Mitra Plumbon, imbuh Nanang, pihaknya belum bisa memastikan positif. Pasalnya, pasien tersebut meninggal dunia sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Diberitakan sebelumnya, kabar meninggalnya seorang pasien diduga terjangkit Covid-19 yang sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit (RS) swasta di Kabupaten Cirebon, beredar di grup WhatsApp. Dalam grup tersebut, pasien dikabarkan meninggal dunia pada Rabu (25/3/2020) sore.

Menanggapi hal itu, juru bicara Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon, Nanang Ruhyana secara tegas membantah kabar tersebut.

BACA JUGA: Inovasi Cegah Penyebaran Covid-19, Dinkes Luncurkan Bilik Spraying

Menurut Nanang, meninggalnya seorang pasien di RS saat kondisi wabah Covid-19 seperti saat ini, tidak serta merta bisa dikatakan akibat Covid-19 sebelum ada pemeriksaan hasil laboratorium. Untuk memastikan pasien positif Covid-19, kata Nanang, harus melalui pemeriksaan laboratorium hingga dua kali pemeriksaan.

“Tidak bisa dikatakan (positif) Covid-19 kalau tidak ada hasil laboratorium. Kalau hasil pemeriksaan dua kali positif ya berarti itu (positif). Tapi kalau masih satu kali pemeriksaan tidak bisa dikatakan positif, harus dua kali. Jadi kalau hasil lab dua kali positif, berarti ya positif,” tegas Nanang, Rabu (25/3/2020).

Sementara untuk pasien yang dimaksud, lanjut Nanang, secara tertulis pihaknya memang belum menerima laporan adanya pasien yang dirawat di RS swasta itu. Kepastian keberadaan pasien tersebut baru diketahui setelah dirinya melakukan kroscek langsung ke direktur RS swasta yang menangani.

“Korona itu bisa ditegaskan diagnosanya kalau sudah ada pemeriksaan laboratorium. Ini (pasien) baru masuk tadi malam (selasa malam, 24/3), dan tadi sore (rabu sore) meninggal,” jelasnya.

BACA JUGA: Hadeh, Suruh Belajar di Rumah Malah Main PS

Karena lebih dulu meninggal, sehingga pasien yang dimaksud belum sempat dilakukan pemeriksaan laboratorium oleh petugas medis. Alasan lain yang mendasari pasien tidak bisa disebut meninggal karena Covid-19, imbuh Nanang, adalah karena banyak penyakit penyerta yang membuat pasien tersebut masuk RS. Berdasarkan kondisi tubuhnya yang gendut, diduga pasien juga mengidap penyakit jantung.

“Memang ya banyak penyakit penyertanya, kalau melihat foto-foto yang menyebar, kan orangnya gendut banget. Kalau dilihat sih seperti (menderita penyakit) jantung atau apa lah, tapi saya tidak bisa menduga karena kan itu ranah rumah sakit. Tapi yang jelas pasien ini belum diambil labnya,” tandas Nanang.

BACA JUGA: Belajar di Rumah Resmi Diperpanjang

Dengan kondisi seperti saat ini, seyogyanya masyarakat tidak menelan mentah-mentah berita hoax yang beredar baik di medsos maupun grup WhatsApp. Karena, kabar meninggalnya seseorang akan selalu dikait-kaitkan dengan wabah Covid-19.

“Saya tegaskan, saya belum bisa menyatakan karena belum ada hasil diagnosa. Cuma memang sekarang kalau ada orang meninggal selalu dikait-kaitkan ke situ semua (Covid-19),” pungkasnya. (Islah)

Comment

News Feed