by

Sangat Kompleks dan Besar, Penanganan PPKS Harus Ada Intervensi Lintas Sektoral

PENANGANAN masalah Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di Kabupaten Cirebon, belum optimal. Hal itu karena, persoalan PPKS di Kabupaten Cirebon masih cukup kompleks.

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Cirebon, Lili Marliyah mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan penanganan masalah PPKS itubelum optimal.

Menurutnya, berdasarkan data pada tahun 2017 lalu saja, di Kabupaten Cirebon tercatat ada 1.274 anak terlantar. Jumlah tersebut tentu bukan jumlah yang sedikit. Diakuinya, ribuan anak terlantar tersebut harus ditangani melalui program-program dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon.

Menurut Lili, ada 26 jenis masalah PPKS yang penanganannya butuh peran serta semua pihak agar cepat selesai. Pihaknya ingin agar jumlah yang sudah terdata itu bisa segera diselesaikan. Tentunya, penanganannya harus ada intervensi lintas sektoral.

“Karena untuk menyelesaikan persoalan ini butuh peran serta banyak pihak, kalau data terkahir di 2017 itu ada seribuan lebih, tapi sekarang belum di-update lagi,” ujar Lili, Kamis (26/8/2021).

Selain persoalan anak terlantar, kata dia, di Kabupaten Cirebon juga ditemukan persoalan PPKS lainnya seperti pengemis sebanyak 463 orang, pemulung 363 orang dan perlindungan disabilitas dengan jumlah 1804. Dimana dari jumlah tersebut sudah terverifikasi sebanyak 658 orang.

“Kalau sekarang kita kan melangkah di tahap awal, kita sedang memperbaiki data yang kita miliki agar program dan penanganan yang kita lakukan bisa tepat sasaran,” katanya.

Untuk memaksimalkan penanganan atau rehabilitasi sosial PPKS, pihaknya terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak, salah satunya adalah dengan Satpol PP. Hasil razia yang dilakukan Satpol PP diserahkan ke Dinas Sosial untuk direhabilitasi.

BACA JUGA: Kisruh Keraton Kasepuhan Ancam Cagar Budaya

Berdasarkan temuan di lapangan, Lili mengaku pernah menemukan kasus dimana anak-anak meminta-minta di jalan bukan karena disuruh orang tuanya. Melainkan untuk main di warnet dan membeli kuota.

“Kita pernah temukan kasus seperti itu, untuk kebutuhan main warnet sama beli kuota. Mungkin karena minta ke orang tua tidak dikasih sehingga terpaksa mengemis dijalan,” terangnya. (Islah)

Comment