by

PSGA IAIN Cirebon Berikan Pendidikan Seksual

CIREBON, SC- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon memberikan konsep pemahaman dan pencerahan melalui bedah pendidikan seksual melalui kegiatan webinar, Kamis (7/10/2021).

Pasalnya, kekerasan pada anak kerap terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pemicu kekerasan tersebut banyak dilatarbelakangi oleh faktor-faktor luar.

Sebagai Narasumber, PSGA mengundang dua pembicara, di antaranya Vina Adriany, Ph.D (UPI Bandung), Irwan Adrian Gunawan, M.Pd (Tanoto Foundation), dengan Moderator Royani Afriani, M.Pd.

Dalam pemaparannya, Vina Andriany menjelaskan bahwa pendidikan seks adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan kepada anak mengenai tubuhnya, fungsi reproduksi, kesehatan seksual dan mental sehingga anak mendapatkan informasi yang ilmiah dan akurat.

Vina juga menegaskan, bahwa pendidikan seks merupakan cara membuka cakrawala terutama pada anak dan kalangan millenial agar tidak menjadi tabu dan mereka mendapatkan posisional saat mampu memberikan keputusan.

“Kekerasan seksual selalu dimulai dari orang dewasa yang tidak memposisikan usia anak sebagai usia yang irasional dan lemah. Hal itu bisa ditandai dengan sikap penurut pada anak serta patuh, di mana anak tidak melakukan perlawanan saat terjadi ancaman,” terangnya.

Kasus seperti ini masih banyak terjadi dan melanggar hak anak. Sehingga peran orang tua di dalam keluarga harus lebih ekstra dengan selalu membuka diskusi dan komunikasi agar hal-hal tabu yang dianggap irasional oleh anak bisa dinalar dengan keputusan yang rasional oleh anak, terutama menyangkut dampak dan akibat dari perbuatan tersebut.

“Maka di sini pentingnya memberikan pendidikan yang komprehensif dan anak diberikan kebebasan untuk mengambil sebuah keputusan,” katanya.

BACA JUGA: Dialog Budaya Keagamaan dan Transformasi IAIN Cirebon ke UISSI, Canggih dan Moderat

Vina juga menambahkan, bahwa kekerasan pada anak juga bisa dilatarbelakangi oleh pengaruh media sosial (medsos) dan ITE lainnya. Pada konteks ini pendampingan dan diskusi dua arah antara anak dan orang dewasa atau orang tua harus terjalin komunikasi yang baik. Sehingga anak dapat memfilter dampak pengaruhnya.

Hal senada juga disampaikan pembicara lainnya, termasuk dialog antara peserta dengan pembicara yang menghangatkan tema-tema soal kenakalan dan kekerasan pada anak. 

Intinya, kenakalan dan kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang dewasa harus dicegah sedini mungkin dengan memberikan pemahaman yang kuat dan positif kepada anak, baik melalui pendampingan orang tua maupun komunikasi yang muaranya memberikan posisi kepada anak.

Sehingga relasi konstruksi anak dan orang dewasa yang terkadang tidak selaras akan menempatkan anak pada posisi kuat dan tidak lemah lagi, sehingga hak posisional anak tidak hilang. (Ril)

Comment