by

Kabupaten Cirebon Miliki Pelaku Seni Pirografi

PHYROGRAPHY atau seni dekorasi membuat gambar berbahan kayu atau bahan lain dengan cara hasil pembakaran ternyata sudah ada di Kabupaten Cirebon. Pelaku seni pirografi itu bahkan sudah ada lima pelukis orang yang tersebar di tiga tempat yaitu Kecamatan Mundu, Kapetakan dan Kecamatan Gegesik.

Salah seorang pelukis bakar asal Mundu, yang juga merupakan pelukis pertama di Cirebon, Nana Mulyana menyampaikan, awal ide untuk menekuni seni ini karena keadaan yang tidak memungkinkan. Dirinya, beranggapan tanpa keahlian khusus tidak mungkin untuk dapat terus bertahan lama sebagai buruh pabrik di Cikarang.

Dibeberkannya, di tahun 2018 ia mulai belajar hobi baru yang sekiranya dapat menghasilkan. Berawal dari seni lukis ukir, yang kemudian beralih lukis bakar di tahun yang sama. Namun, dirinya baru menerima orderan di tahun berikutnya.

“Awal main lukis bakar 2018, berani trima orderan 2019. Jadi belajar lukis dan gambar di tahun 2018, waktu itu belajar ukir. Tapi, di tahun itu saya menemukan komunitas phyrograph, dan mempelajari menggambar menggunakan alat tersebut,” kata Nana, Senin (25/10/2021).

Diakui Nana, pembelian alat phyrography tidak mudah, karena harus melalui grup whatsapp. Pasalnya, alat-alat yang dibutuhkannya itu memang belum dijual secara umum di toko ataupun marketplace.

“Kalaupun ada itu di marketplace banyaknya produk luar negeri, yang mana alatnya tidak sebaik buatan lokal, ya buktinya sampai sekarang dari 2018 belum pernah ada yang diganti,” ungkapnya.

Menjadi yang pertama di Cirebon tentulah tidak mudah, karena seni sendiri untuk pasar Cirebon belum begitu dihargai betul di kalangan masyarakatnya. Hingga akhirnya, salah satu pelanggan dan temannya Chaerul belajar dan ikuti jejaknya. Sama seperti Nana yang masih memiliki pekerjaan utama di furniture. Chaerul pun menjadikan lukis bakar sebagai hobi yang menghasilkan.

“Tidak jadi pekerjaan utama, saya cuma emang sengaja mencoba hobi baru tapi yang sekiranya menghasilkan,” katanya.

Menggunakan media kayu triplek, Nana, memasang satu lukisan secara umum seharga Rp185.000 untuk ukuran 20x 30 cm gambar satu wajah dan tambahan Rp50.000 jika tambah satu wajah. Untuk proses pembuatan sendiri tergantung mood dan kualitas gambar JPG.

“Paling sebentar tergantung mood dan kualitas foto ukuran A4 20×30. Pesanan sendiri rata-rata wajah orang dan bayarannya pun kadang tergantung ukuran, jumlah wajah dan kesulitan,” ujarnya.

Kesulitan lukis bakar menurutnya, bila mengalami kesalahan dalam menorehkan pen atau alatnya. Sebab, tidak dapat dihapus. Sehingga, bila sampai tidak sengaja tercoret akan dibuat siluet. Untuk menghindari kesalahan tersebut, ia akan memulai dari suhu terendah dan kemudian memainkan gradasi.

BACA JUGA: Hiasan Akuarium dari Gerabah Siap Gebrak Pasar

Masih kata Nana, ketahanan lukisan bakar ini, bila tidak dilapisi clear akan bertahan sekitar satu tahun dengan warna arang yang memudar. Sedangkan, bila dilapisi clear bertahan cukup lama.

“Kalau pake clear tapi disimpan di tempat lembap atau hanya di lemari pasti berjamur tapi ga hilang warna arangnya. Beda dengan tanpa lapisan clear setahun sudah pudar tapi tidak hilang,” ucapnya.

Pesanan terjauh sendiri saat ini mencapai Magelang dan Malaysia yang memang dipesan orang Indonesia yang hendak dibawa ke Malaysia. Untuk pesanan dengan bayaran tertinggi lukisan Bupati Cirebon, H. Imron yang dihargai Rp500.000 dan lukisan artis komedian Mang Saswi dengan nominal yang sama.

“Itu yang Bupati saya tidak kasih patokan harga tapi dihargai oleh Bupati langsung,” pungkasnya. (Sarrah/job)

Comment