SUARA CIREBON – Saat tubuh Vina dan mayat Eki ditemukan pada Sabtu malam 27 Agustus 2016 atau 8 tahun lalu, ternyata di daerah fly over jalan tol tengah hujan deras.
Suroto, mandor Desa Kecomberan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon mengungkapkan kesaksiannya yang mengejutkan terkait posisi tubuh Vina dan mayat Eki.
“Saya yang pertama memberi pertolongan. Saat itu, yang laki-laki sudah meninggal dunia. Kalau yang perempuan masih hidup,” tutur Suroto, Rabu 5 Juni 2024.
Suroto merupakan orang yang pertama mengetahui ada dua tubuh tergeletak di jalan raya di fly over jalan tol pada Sabtu malam, 27 Agustus 2016 pada sekitar pukul 22.00 WIB atau sepuluh malam.
“Saya lagi patroli kampung. Lewat fly over melihat ada dua tubuh tergeletak di jalan raya. Saat itu sekitar jam sepuluh malam dan hujan deras,” tutur Suroto.
Keterangan Suroto sangat mengejutkan, sebab posisi dan lokasi tubuh Vina dan Eki ternyata berbeda dengan yang selama ini ditunjukan ke masyarakat berdasarkan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kepolisian.
Jarak antara tubuh Vina dan Eki yang diketahui Suroto, antara 100 sampai 200 meter dari lokasi yang ditunjukan oleh hasil olah TKP kepolisian.
Versi kepolisian, mayat Vina dan Eki ditemukan di sisi kiri di tanjakan sebelum jembatan layang atau fly over yang ke arah Sumber dari arah Kali Tanjung, Kota Cirebon yang merupakan Jalan Raya Kali Tanjung.
Mayat Vina dan Eki, berdasarkan tanda yang diberikan oleh pihak kepolisian, jaraknya berdekatan hanya sekitar sekitar 1 meter. Keduanya tergeletak di atas trotoar.
Posisi mayat Vina dan Eki, versi yang ditandai polisi, berada di wilayah Desa Kepompongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.
Suroto mengungkapkan keksasiannya sebagai orang yang pertama kali melihat ada dua tubuh sepasang remaja tergeletak di jalan raya, belakangan diketahui tubuh Vina dan Eki.
Posisi mayat Vina dan Eki, ternyata berada di sebelah kanan jalur ke arah Sumber, masih di sekitar fly over namun masuk wilayah Desa Kecomberan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.
Suroto menjelaskan secara rinci letak dan posisi tubuh baik Vina maupun Eki, termasuk posisi sepeda motor yang berada di sisi kanan jalur ke arah Sumber di wilayah Kecomberan.
Suroto mengaku heran saat ramai-ramai syuting film Vina Sebelum 7 Hari. Sebab lokasi syuting itu berada di posisi yang masuk wilayah Kepompongan.
“Saya heran saat lokasi syuting. Itu salah semua. Posisi mayat itu di Kecomberan bukan disana (Kepompongan),” tutur Suroto.
Suroto menjelaskan kalau dirinya orang yang pertama menolong tubuh Vina dan Eki. Saat itu, memang banyak kendaraan melintas, namun Sebagian besar tidak ada yang mau turun untuk ikut menolong.
“Banyak yang lewat. Tapi mereka tidak mau berhenti ikut menolong. Mungkin ketakutan karena saat itu malam hari,” tutur Suroto.
Suroto menjelaskan, pertama ia melihat dua tubuh tergeletak di pukul 22.00 WIB atau jam sepuluh malam hari. Kebetulan saat itu hujan deras turun di lokasi penemuan mayat.
Suroto menjelaskan posisi Eki di dekat median jalan. Dalam posisi memakai helm dan mengenakan jaket seragam XTC.
“Yang pertama saya tolong itu tubuh laki-laki. Posisinya terlentang. Saya tidak tahu Namanya saat itu. Hanya saja, setelah saya coba lihat, sudah tidak bergerak-gerak. Sudah meninggal dunia,” tutur Suroto.
Suroto mengaku sempat membuka helm Eki yang masih menempel di kepala. Saat itu, dari kepala dan tubuhnya mengeluarkan banyak darah yang terbawa oleh arus air akibat hujan deras.
“Darah keluar dari kepala dan tubuh, terbawa genangan air hujan,” tutur Suroto.
Setelah melihat tubuh laki-laki itu tidak bergerak dan meninggal dunia, Suroto lalu mendekati tubuh si Wanita (Vina) yang jaraknya sekitar 7 meter, juga dalam posisi terlentang.
“Kalau si Wanita masih hidup. Posisinya terlentang dengan kepala menghadap ke arah Sumber. Tangan kanannya sempat bergerak-gerak dan teriak kesakitan minta tolong,” tutur Suroto.
Suroto sempat menyaksikan posisi celana Vina sempat melorot dan terlihat celana dalamnya. Ia sempat menarik ke atas membenarkan posisinya dan menutupi dengan jaket.
“Teriak-teriak minta tolong. Saya sempat menolong sambil duduk memegangi kepalanya. Dia masih hidup, merintih kesakitan dengan luka yang parah dan banyak mengeluarkan darah,” tutur Suroto.
Sementara posisi sepeda motor, tergeletak dalam Jarak sekitar 8 meter dari tubuh Vina ke arah Sumber. Suroto saat itu sempat memindahkan sepeda motor ke sisi sebelah kiri jalan sebelum menolong para korban.
Tak lama, setelah menerima laporan ada korban kecelakaan, ada tiga anggota Polsek Talun datang membawa mobil ranger.
“Saya dan tiga anggota Polsek Talun menolong menaikan tubuh korban. Saya ikut menjaga tubuh yang wanita sampai ke rumah sakit,” tutur Suroto.
Tubuh Vina dan Eki dibawa ke RSUD Gunung Jati. Eki sudah meninggal dunia, sedangkan Vina sempat dilarikan ke unit gawat karena masih hidup dan terus menangis sambil minta tolong.
Kesaksian Suroto ini sangat mengejutkan. Sebab posisi mayat Vina dan Eki ternyata berbeda dengan posisi yang ditandai polisi dan selama ini dipahami masyarakat.
Untuk keterangan ini, Suroto bahkan sempat memberikan kesaksian di depan persidangan. Saat itu, ia hanya diminta keterangan seputar lokasi mayat Vina dan Eki serta sepeda motor.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















