SUARA CIREBON – Banjir yang merendam area persawahan di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon pekan kemarin, telah mengancam ketahanan pangan di daerah yang merupakan salah satu daerah pemasok beras nasional.
Data dari Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon menyebut, banjir yang melanda sejumlah wilayah berdampak pada areal pertanian di sembilan kecamatan, di antaranya Kecamatan Gegesik, Gunungjati dan Kecamatan Tengahtani.
Kepala Distan Kabupaten Cirebon, Alex Suheriyawan mengatakan, banjir pekan kemarin terjadi pada masa awal penanaman padi yakni penyemaian benih padi. Durasi banjir juga dinilai tidak terlalu lama, sehingga benih padi masih memiliki peluang untuk bertahan.
Jika benih padi terendam kurang dari lima hari, dipastikan tidak menyebabkan kerusakan benih padi yang sudah disemai. Bahkan, ada beberapa varietas benih padi yang mampu bertahan hingga tujuh hari ketika terendam banjir.
“Durasi banjir kemarin tidak terlalu lama, sehingga diharapkan tidak menyebabkan kerusakan besar pada benih,” ujar Alex Suheriyawan, Selasa, 22 Januari 2025.
Alex meminta kepada para petani, agar ke depan lebih memperhatikan pola tanam, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang tak terduga. Menurutnya, para petani harus menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca. Ketika musim hujan, maka sebaiknya padi tidak ditanam pada awal musim penghujan.
Alex juga menyarankan para petani untuk menggunakan varietas padi yang tahan terhadap genangan saat memasuki musim hujan.
“Ini adalah masa tanam pertama (MT 1). Kalau mengacu pada tahun lalu, panen dilakukan pada Februari. Tetapi karena anomali cuaca, pola ini harus disesuaikan,” kata Alex.
















