SUARA CIREBON – Dugaan persaingan tidak sehat antara rumah sakit swasta dan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon, dalam hal ini Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun, hingga membuat rumah sakit pelat merah terpuruk, ditanggapi anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon, Nurkholis.
Seperti diketahui, persaingan tidak sehat hingga membuat RSUD Arjawinangun terpuruk, salah satu penyebabnya adalah dugaan adanya fee dari pihak rumah sakit swasta kepada aparat pemerintah desa dan tenaga kesehatan yang mengantarkan pasien ke rumah sakit tersebut.
Menurut Nurkholis, perangkat desa dan tenaga kesehatan yang memanfaatkan praktik tersebut hanya oknum. Artinya, tidak semua perangkat desa dan tenaga kesehatan melakukan hal tersebut.
“Saya yakin enggak semua, dan itu tidak melulu menjadi alasan Rumah Sakit Arjawinangun jadi terpuruk, yang terpenting adalah internal dulu,” ujar Nurkholis, Selasa, 24 Juni 2025.
Nurkholis mengatakan, pembenahan di internal RSUD Arjawinangun mutlak dilakukan, salah satunya adalah dari sisi pelayanan. Nurkholis ingin pelayanan yang baik di RSUD Arjawinangun bukan hanya klaim dari pihak rumah sakit yang bersangkutan saja.
Pasalnya, menurut dia, isu yang beredar di masyarakat saat ini, ketika keluarga membawa pasien ke rumah sakit milik Pemkab Cirebon, sama saja dengan mengantarkan nyawa. Isu tersebut berkembang lantaran pelayanan pasien di RSUD Arjawinangun tidak ditangani dengan baik.
“Isu yang berkembang di masyarakat itu harus diperbaiki, dan ini tugas Pemda dan rumah sakit itu sendiri,” tegas.
Politisi PKS ini mengatakan, isu pelayanan di RSUD Arjawinangun kurang maksimal ini datang dari hampir seluruh masyarakat Kabupaten Cirebon yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sisi pelayanan merupakan faktor penting yang harus segera dibenahi jika ingin mendapat banyak kunjungan dari masyarakat.



















