SUARA CIREBON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat, banjir yang merendam empat desa di dua kecamatan wilayah utara Kabupaten Cirebon, pada Jumat, 6 Februari 2026 sore hingga Sabtu, 7 Februari 2026 malam lalu, dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah hilir dan hulu secara bersamaan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon, Hadi Eko mengatakan, akibat kondisi tersebut, Sungai Kedung Pane dan Sungai Pekik tak lagi mampu menampung debit air yang meningkat tajam hingga akhirnya meluap.
“Kami mencatat empat desa di dua kecamatan terendam air setelah sungai-sungai utama di wilayah tersebut meluap. Luapan air tersebut kemudian memasuki pemukiman warga,” kata Hadi Eko, Senin, 9 Februari 2026.
Ketinggian banjir dilaporkan bervariasi, namun di beberapa titik mencapai kondisi yang mengkhawatirkan. Hadi menjelaskan, wilayah terdampak banjir terjadi di Kecamatan Kedawung dan Kecamatan Gunungjati. Ketinggian banjir mencapai 20 cm hingga 150 cm (1,5 meter) dan berdampak pada 770 kepala keluarga (KK) atau sekitar 920 jiwa.
“Untuk fasilitas umum yang terendam ada 11 unit bangunan, termasuk sekolah, kantor pemerintah, tempat ibadah, dan tempat usaha,” ujar Hadi.
Menurutnya, sedimentasi sungai yang tinggi dan sistem drainase yang kurang optimal membuat air sulit mengalir. Sehingga genangan meluas dengan cepat di kawasan padat penduduk.
Sejak air mulai naik, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI-Polri, pihak kecamatan, hingga relawan komunitas siaga bencana telah diterjunkan ke lokasi. Fokus utama petugas adalah melakukan penyisiran dan evakuasi terhadap warga, terutama lansia dan anak-anak.
Hadi menambahkan, berdasarkan hasil asesmen terbaru di lapangan, kondisi banjir sudah surut. Meski demikian, petugas tetap siaga melakukan antisipasi mengingat hujan susulan diprediksi masih akan terjadi.
















