SUARA CIREBON – Kabupaten Cirebon menyimpan banyak jejak sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Salah satu jejak sejarah tersebut adalah bangunan Masjid Gamel yang berdiri di Desa Gamel, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.
Masjdi Gamel merupakan salah satu tempat ibadah umat Islam tertua di kawasan Pantura Cirebon. Tak hanya memiliki arsitektur konstruksi bangunan yang unik, masjid ini meyimpan cerita yang belum seluruhnya terungkap.
Salah satunya, sejumlah tiang berusia ratusan tahun dengan ukiran huruf (tulisan, red) palawa yang masih berdiri kokoh. Satu sisi tiang lainnya bertuliskan huruf Arab pegon yang masih dapat terbaca jelas.
Masjid Gamel ini diperkirakan berumur lebih dari 300 tahun. Didirikan antara tahun 1111 dan 1112 Hijriyah, atau awal tahun 1700-an Masehi.
Perkiraan ini didasarkan pada dua inskripsi dengan huruf Arab pegon dan Jawa yang terdapat pada balok kayu yang menghubungkan Saka Guru dan Saka Rawa di dalam ruang utama Masjid.
Nama Desa Gamel diambil dari seekor kuda milik Sultan Cirebon yang dipelihara oleh Ki Gede Suradinata. Pada masa itu, Ki Gamel adalah satu-satunya yang pandai memelihara kuda.
Pengurus masjid, Munija, mengatakan, Masjid Gamel tercatat dalam inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (BPCB) Banten.
Dahulu, bangunan ini disebut Masjid Sang Ciptasari, kemudian berubah nama menjadi Masjid Nurul Karomah, sebelum akhirnya lebih akrab dengan sebutan Masjid Gamel.
Meski sarat sejarah, lanjut Munija, Masjid Gamel masih difungsikan sebagai tempat salat hingga kini. Masyarakat dapat melaksanakan salat fardu, Jumat, bahkan salat Ied dan kegiatan keagamaan lainnya di masjid tersebut.
“Selama Ramadan, suasana masjid memang lebih hidup. Menjelang berbuka, ada lantunan pengajian begitu juga setelah Salat Subuh jamaah kembali berkumpul untuk mendalami ilmu agama. Tradisi ini terus dijaga, sebagaimana bangunan tua yang tetap dipertahankan,” kata Munija, Rabu, 4 Maret 2026.
Munija mengatakan, berdasarkan kisah tutur yang diwariskan turun-temurun, nama Syekh Windu Aji disebut sebagai tokoh awal yang dikaitkan dengan pendirian Masjid Gamel tersebut. Perjuangan dakwahnya kemudian dilanjutkan oleh Syekh Linu Aji.
“Pada masa Kesultanan Cirebon, masjid ini mendapat perhatian dari Sultan Kanoman pertama yang merenovasi sebagai bentuk penghormatan terhadap syiar Islam,” ujarnya.
Menurut Munija, pada salah satu balok penyangga atap saka blandar terpahat inskripsi beraksara Rikasara, aksara kuno khas Cirebon yang kini jarang ditemukan. Tulisan tersebut berkaitan dengan proses pembuatan atap masjid pada abad ke-17.
“Di situlah sejarah seakan berbicara, mengabarkan bagaimana Islam tumbuh dan berakar di tanah Cirebon,” katanya.
Bangunan utama masjid berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 9,3 x 9,3 meter. Enam belas tiang menopang, dengan empat saka guru dari kayu jati berdiameter sekitar 40 sentimeter dan tinggi kurang lebih 4,5 meter. Tiang-tiang itu berdiri di atas umpak dengan ketinggian berbeda antara sisi barat dan timur sebuah teknik konstruksi tradisional yang menjadi ciri masjid kuno Cirebon.
Di bagian dalam, lantai dan dinding memang telah dilapisi keramik sebagai bentuk penyesuaian. Namun struktur inti tetap dijaga, atap genteng palentong dengan rangka kayu tua masih setia menaungi jamaah yang bersujud.
“Dulu kami juga tidak tahu sejarahnya. Setelah ada yang meneliti tulisan aksara kuno di balok penyangga, barulah disebut sebagai bangunan cagar budaya,” ujarnya.
Seiring waktu, masjid ini beberapa kali dipugar, teras ditambahkan, lantai pernah dikeruk hingga 43 sentimeter, serambi diperluas di sisi timur dan utara agar mampu menampung lebih banyak jamaah.
“Pada 1996, beberapa saka guru yang mulai keropos diganti, namun, sebagian besar struktur aslinya tetap terjaga,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.