SUARA CIREBON – UIN Siber Cirebon menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menggali Ajaran Pesan Sunan Gunung Djati dan Syekh Nurjati” pada Selasa, 28 April 2026, di Gedung Siber SBSN Lantai IV.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan akademik Unit Konsorsium Keilmuan Rahmatan Lil Alamin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. FGD dihadiri pimpinan dan sivitas akademika UIN Siber Cirebon, antara lain Rektor, para Wakil Rektor, Kepala Biro AKU, dekan, Ketua Senat, serta dosen sejarah.
Tim dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dipimpin Supiana bersama M. Taufiq Rahman, Wiryo Setiana, Kohar Rasyidin, dan Fanida Firdausi Fauziyah.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Ayus A Yusuf, mengatakan FGD bertujuan menggali, merumuskan, dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Sunan Gunung Djati dan Syekh Nurjati sebagai basis penguatan keilmuan dan karakter di perguruan tinggi.
“Kami ingin nilai-nilai lokal yang selama ini hidup di masyarakat tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun karakter akademik mahasiswa,” ujar Ayus.
Menurutnya, penggalian nilai lokal berbasis sejarah dan kearifan ulama menjadi langkah penting untuk memperkuat identitas akademik kampus sekaligus menjawab tantangan globalisasi.
Rektor UIN Siber Cirebon, Aan Jaelani, menyatakan kegiatan ini menjadi momentum untuk menggali kembali ajaran Sunan Gunung Djati dan Syekh Nurjati sebagai sumber inspirasi pengembangan keilmuan yang tidak hanya akademis, tetapi juga bernilai spiritual dan sosial.
“FGD ini menjadi langkah awal untuk merumuskan nilai-nilai ajaran Sunan Gunung Djati dan Syekh Nurjati agar lebih terstruktur dan dapat diintegrasikan dalam pengembangan keilmuan di kampus,” kata Aan.
Ia menambahkan, sinergi antarperguruan tinggi dalam pengembangan keilmuan Rahmatan Lil Alamin menjadi langkah strategis dalam membangun pendidikan Islam yang moderat, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, Supiana menyebut kunjungan akademik tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi keilmuan antarperguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), khususnya dalam pengembangan kajian Rahmatan Lil Alamin berbasis kearifan lokal.
“Kolaborasi ini penting agar pengembangan keilmuan Rahmatan Lil Alamin tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan antarperguruan tinggi,” ujar Supiana.
Anggota tim lainnya, M. Taufiq Rahman, menilai ajaran Sunan Gunung Djati dan Syekh Nurjati memiliki potensi besar untuk dikaji secara akademik.
“Ajaran tersebut dapat dikembangkan menjadi model keilmuan yang kontekstual dan berdampak bagi masyarakat,” katanya. (Arif)
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















