Oleh: Mohamad Arifin
Pranata Humas Ahli Muda UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day sebagai momentum refleksi atas perjuangan, peran, dan kontribusi para pekerja dalam membangun peradaban. Lebih dari sekadar peringatan historis, Hari Buruh adalah panggilan moral untuk meneguhkan kembali makna kerja sebagai bagian dari kemuliaan hidup manusia.
Dalam perspektif yang lebih luas, kerja bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan manifestasi nilai kemanusiaan. Kerja adalah bentuk ibadah, dedikasi, dan tanggung jawab sosial. Di dalam setiap profesi—apa pun bentuknya—tersimpan kontribusi nyata bagi keberlangsungan kehidupan bersama.
Di lingkungan perguruan tinggi, termasuk UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, makna kerja hadir dalam beragam peran. Tenaga pendidik mengabdikan diri melalui ilmu pengetahuan, membentuk generasi yang berintegritas dan berdaya saing. Tenaga kependidikan memastikan sistem akademik berjalan tertib dan profesional. Di sisi lain, terdapat pula tenaga pendukung seperti petugas kebersihan (cleaning service) dan petugas keamanan (security) yang meskipun sebagian berstatus outsourcing, namun memiliki peran vital dalam menjaga kenyamanan, keamanan, dan kelancaran aktivitas kampus.
Sering kali, peran-peran tersebut luput dari perhatian. Padahal, tanpa kontribusi mereka, roda institusi tidak akan berjalan secara optimal. Di sinilah pentingnya menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa setiap pekerjaan memiliki nilai, setiap peran memiliki makna, dan setiap individu berhak atas penghargaan yang setara.
Hari Buruh juga mengingatkan kita bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh sejauh mana kita memuliakan para pekerja. Keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat pekerja harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan dan praktik kelembagaan.
Di era disrupsi dan transformasi digital, tantangan dunia kerja semakin kompleks. Adaptasi terhadap teknologi menjadi keniscayaan, namun nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh tergerus. Justru di tengah perubahan tersebut, kita dituntut untuk menghadirkan keseimbangan antara produktivitas dan empati, antara efisiensi dan penghargaan terhadap manusia sebagai subjek utama pembangunan.
Momentum May Day hendaknya tidak berhenti pada seremoni atau retorika, tetapi menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama. Komitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, adil, dan berkeadaban. Komitmen untuk saling menghargai lintas profesi. Dan komitmen untuk terus bekerja dengan integritas, dedikasi, serta semangat memberi manfaat.
Akhirnya, Hari Buruh adalah tentang kita semua—tentang bagaimana kita memaknai kerja, menghargai sesama, dan berkontribusi bagi masa depan. Karena pada hakikatnya, kemuliaan kerja bukan terletak pada jenis pekerjaannya, tetapi pada nilai, niat, dan dampak yang dihasilkan bagi kehidupan.
Selamat Hari Buruh Internasional 2026.
Mari kita muliakan kerja, dan melalui kerja, kita muliakan kemanusiaan.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















