SUARA CIREBON – Jasad Afandi, bocah 11 tahun yang tenggelam usai terseret derasnya arus Sungai Kriyan selama tiga hari, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Rabu, 6 Mei 2026 sekitar pukul 06.30 WIB.
Jenazah korban ditemukan pertama kali oleh seorang pemulung bernama Munadi di area pesisir laut, tepatnya di kawasan hutan mangrove yang masuk dalam wilayah RW 09, Kelurahan Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk.
Saat itu, Munadi yang sedang beraktivitas di sekitar lokasi melihat objek mencurigakan di tumpukan sampah dan akar mangrove. Setelah dipastikan objek tersebut adalah jenazah manusia, Munadi segera melaporkan temuan tersebut kepada warga sekitar dan tim SAR gabungan yang berada di posko pencarian.
Mendapat laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, Pol Airud, TNI, serta unsur Polsek dan Kecamatan langsung meluncur ke lokasi penemuan. Medan yang berupa rawa mangrove dan tumpukan sampah sempat menjadi tantangan, namun jenazah berhasil dievakuasi dengan cepat oleh petugas.
Lurah Kesepuhan, Deny Rochman menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga korban, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi SAR ini.
”Kami berterima kasih kepada BPBD, TNI-Polri, Tim SAR, dan seluruh warga, khususnya Pak Munadi yang memberikan informasi awal. Sinergi semua pihak sejak hari pertama hingga hari ketiga ini sangat luar biasa dalam membantu proses pencarian hingga korban ditemukan,” kata Deny, di lokasi kejadian.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebut, korban diketahui bernama Afandi (11) tercatat sebagai warga Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Korban tenggelam usai terseret arus Sungai Kriyan saat tengah berenang bersama tiga temannya, pada Senin, 4 Mei 2026 sekitar pukul 16.00 WIB lalu.
Kapolsek Lemahwungkuk, Iptu Usep Winta, menuturkan, saat itu korban bersama tiga temannya tengah berenang di Sungai Kriyan, kawasan Lawang Sanga, Kelurahan Kasepuhan.
“Saat tengah asyik berenang, arus sungai tiba-tiba deras akibat adanya kiriman air dari wilayah hulu setelah hujan. Korban dan salah satu temannya terseret arus yang tiba-tiba deras tersebut. Temannya berhasil menyelamatkan diri, sementara korban sempat tersangkut di pintu air namun tidak mampu bertahan dan akhirnya terlepas hanyut terbawa arus,” Iptu Usep Winta, dalam keterangannya.
Mengetahui ada anak yang tenggelam terseret arus, seorang warga segera melaporkan kejadian tersebut melalui Layanan Polisi 110.
Sementara, Ketua RT Kelurahan Kasepuhan, Agus menjelaskan, warga sempat melakukan pencarian awal secara mandiri sebelum aparat dan tim gabungan datang untuk melakukan penanganan lebih lanjut di lokasi kejadian.
Proses pencarian melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Polsek Lemahwungkuk, Polres Cirebon Kota, Ditpolair, Basarnas Kota Cirebon, BPBD Kota Cirebon, TNI, serta perangkat pemerintah setempat yang bersama-sama menyisir aliran sungai hingga ke muara.
Pencarian dilakukan secara intensif dengan berbagai metode, namun sempat terkendala oleh kondisi arus yang deras dan cuaca yang kurang mendukung, sehingga pencarian dihentikan sementara pada malam hari dan dilanjutkan kembali keesokan harinya.
Di hari ketiga, korban akhirnya ditemukan di kawasan muara sungai dalam kondisi meninggal dunia, kemudian langsung dievakuasi oleh tim gabungan dan dibawa ke rumah duka untuk penanganan lebih lanjut serta dilakukan identifikasi oleh Unit Identifikasi Polres Cirebon Kota.
Dengan ditemukannya jenazah Afandi, maka operasi pencarian pun secara resmi dinyatakan ditutup.***



















