SUARA CIREBON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon terus memperkuat langkah antisipasi menjelang masuknya musim kemarau tahun 2026 ini.
Sekretaris Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan, berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi musim kering tahun ini diperkirakan tidak tergolong ekstrem.
Pihaknya juga telah melakukan rapat koordinasi bersama sejumlah pihak dalam menghadapi potensi kemarau tahun ini.
“Hasil rapat koordinasi bersama sejumlah pihak memperkirakan periode kemarau berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan. Sekitar bulan Juni sampai Agustus atau September. Saat ini sih masih pancaroba,” ujar Syamsul, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurut Syamsul, Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengurangi dampak kekeringan, terutama di wilayah yang selama ini rawan mengalami krisis air bersih. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembangunan lima titik sumur artesis atau sumur dalam bekerja sama dengan Pusterad.
Lima titik sumur artesis tersebut berada di Desa Cupang dan Desa Walahar, Kecamatan Gempol. Kemudian di wilayah timur berada di Desa Greged, Desa Kamarang, Kecamatan Greged, serta Desa Beber, Kecamatan Beber.
“Lima sumur itu sudah beroperasi dan dimanfaatkan masyarakat di daerah sekitarnya juga,” kata Syamsul.
Keberadaan sumur dalam itu dinilai mampu mengurangi dampak kekeringan yang selama ini kerap terjadi saat musim kemarau tiba. Lima titik sumur tersebut juga dinilai memberikan dampak positif terhadap pengurangan wilayah terdampak kekeringan.
Saat ini, BPBD kembali mengusulkan pembangunan lima titik sumur baru untuk wilayah utara dan wilayah lainnya di Kabupaten Cirebon seperti Jamblang, Pamengkang, Banjarwangunan, dan daerah lainnya.
Ia memperkirakan, upaya pembangunan sumur di wilayah utara bakal menghadapi kendala geografis karena struktur tanah yang didominasi pasir. Kondisi tersebut membuat potensi sumber air tanah relatif rendah.
“Kalau di jalur utara termasuk Dawuan, sumber air cukup sulit ditemukan. Wilayah ini sering banjir tetapi tidak memiliki sumber air dalam karena struktur tanahnya pasir,” jelas Syamsul.
Selain sumur dalam, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah alternatif melalui distribusi air bersih menggunakan mobil tangki bekerja sama dengan PDAM serta menyiapkan tandon air. Langkah ini sebagai upaya antisipasi untuk menjangkau wilayah rawan lainnya yang belum terkover sumur artesis.
Syamsul memastikan, hingga saat ini ketersediaan air bersih di Kabupaten Cirebon masih dalam kondisi aman.
“Kalau berdasarkan prediksi BMKG, Kabupaten Cirebon tidak tergolong ekstrem tinggi, masih kategori aman,” pungkasnya.***



















