SUARA CIREBON – Pemerintah Kota atau Pemkot Cirebon menyatakan kesiapannya menyambut gelaran budaya Milangkala Tatar Sunda. Even besar ini diproyeksikan bukan sekadar perayaan seni dan budaya, melainkan menjadi pemantik utama dalam percepatan penataan kawasan pusaka (heritage) di Kota Cirebon.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo menegaskan akan memanfaatkan momentum Milangkala Tatar Sunda untuk memperkuat identitas Kota Cirebon. Menurutnya, Kota Cirebon memiliki kekayaan sejarah luar biasa yang perlu dikelola secara serius, agar menjadi daya tarik wisata religi dan sejarah yang representatif.
Sebagai persiapan, Wali Kota Effendi Edo menginstruksikan jajaran terkait untuk memperhatikan beberapa poin krusial di antaranya, revitalisasi estetika melalui pembenahan trotoar, penerangan jalan umum (PJU) bernuansa klasik, dan penertiban atribut yang mengganggu pemandangan di area bersejarah.
Selain itu, integrasi wisata yakni menghubungkan titik-titik heritage seperti keraton, gedung balai kota dan bangunan peninggalan kolonial lainnya agar lebih ramah bagi pejalan kaki.
Serta pemberdayaan budaya dengan cara menjadikan Milangkala Tatar Sunda sebagai panggung bagi seniman lokal untuk menunjukkan eksistensi budaya Sunda di tengah keberagaman etnis Cirebon.
“Milangkala Tatar Sunda adalah cermin penghormatan kita terhadap akar budaya. Namun lebih dari itu, ini adalah momen bagi kita untuk menata kembali wajah kota, khususnya kawasan heritage, agar lebih tertib, cantik, dan memiliki nilai jual tinggi,” ujar Effendi Edo.
Kegiatan ini diharapkan mampu menyedot animo wisatawan mancanegara maupun domestik. Pemerintah Kota Cirebon juga mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pegiat budaya untuk bahu-membahu menyukseskan acara ini.
Dengan penataan yang terintegrasi, diharapkan dampak ekonomi dari sektor pariwisata dapat langsung dirasakan oleh warga sekitar kawasan heritage.
“Perayaan ini akan menjadi bukti bahwa kemajuan kota dapat berjalan selaras dengan pelestarian nilai-nilai sejarah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda, Dedi Supandi menuturkan bahwa Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keterikatan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mendorong penataan dan revitalisasi kawasan bersejarah di Kota Cirebon.
“Kegiatan ini bukan hanya kirab budaya, tetapi ada keterikatan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota. Apa yang belum maksimal dilakukan daerah, nantinya bisa didukung oleh Provinsi. Kami berharap pasca kegiatan ini akan ada beberapa revitalisasi di Kota Cirebon, termasuk kawasan Kota Tua,” ujarnya.
Dedi berharap kawasan Kota Tua Cirebon ke depan dapat ditata lebih baik, mulai dari penerangan jalan umum, trotoar, hingga wajah kawasan heritage agar memiliki daya tarik budaya yang kuat.
“Kita ingin kawasan Kota Tua Cirebon punya kesan yang hidup dan nyaman. Selain itu, revitalisasi kawasan Alun-alun Kesultanan juga direncanakan dilakukan pada tahun 2027 agar wajah Kota Cirebon semakin indah,” katanya.
Ia menjelaskan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda merupakan bagian dari napak tilas sejarah Mahkota Binokasih, simbol pemersatu dalam sejarah Tatar Sunda. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak kembali mengingat nilai-nilai persatuan, budaya, dan semangat membangun daerah bersama-sama.
“Kita ingin mengingat kembali sejarah Tatar Sunda yang kaya budaya dan memiliki kejayaan besar. Semangatnya adalah bagaimana kita bersama-sama menata negara, menata provinsi, menata kabupaten dan kota untuk kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Kirab budaya nantinya akan melibatkan penampilan seni dan budaya dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Rangkaian kirab dimulai dari kawasan Pelabuhan atau BAT/Taman Pedati Gede menuju Alun-alun Sangkala Buana dengan jarak sekitar 2,1 kilometer. Rute tersebut akan dilalui iring-iringan kuda tunggang, Kereta Kencana Mahkota Binokasih, hingga delegasi seni budaya daerah.
“Karena ini acara adat dan budaya, maka seluruh peserta harus menampilkan identitas budayanya dengan baik. Mereka harus menggunakan pakaian adat dan menampilkan kesenian yang benar-benar mencerminkan penghormatan terhadap budaya,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















