SUARA CIREBON – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika berdampak nyata pada kenaikan harga pestisida dan perlengkapan pertanian berbahan plastik. Lonjakan harga tersebut mulai dirasakan para petani di Kabupaten Cirebon.
Seorang petani di Desa Tegalkarang, Kecamatan Palimanan yang juga Ketua Gapoktan Tani Makmur desa setempat, Rojai (51), mengatakan, kenaikan paling terasa terjadi pada berbagai jenis pestisida, mulai dari herbisida, insektisida hingga fungisida. Kenaikan harga sejumlah jenis pestisida tersebut berkisar di angka Rp5.000 sampai Rp10.000 per botol ukuran satu liter.
Menurut Rojai, kenaikan harga dipicu mahalnya bahan baku impor dan kemasan plastik yang terdampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Hal itu ia ketahui dari pemilik kios penjual obat-obatan pertanian setempat.
“Saya tanya ke kios, katanya kenaikan itu dari harga plastik atau bungkus pestisida. Kemudian, sebagian bahan aktif pestisida masih impor, jadi berpengaruh karena dolar naik, rupiah melemah,” ujar Rojai, Selasa, 19 Mei 2026.
Selain pestisida, perlengkapan pertanian berbahan plastik seperti selang air juga ikut melonjak tajam. Selang air ini banyak dicari petani untuk pompanisasi sawah saat musim kemarau tiba. Ia menyebut, kenaikan harga selang air mencapai 50 persen.
“Selang untuk pompanisasi itu naiknya sampai 50 persen,” katanya.
Meski harga gabah saat ini cukup baik, menurut dia, kenaikan tersebut belum mampu menutup membengkaknya biaya produksi. Kondisi ini membuat biaya operasional pertanian meningkat dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Rojai menjelaskan, harga gabah saat ini Rp7.400 sampai Rp7.800 per kilogram. Harga tersebut berada di atas harga serapan Bulog sebesar Rp6.500.
“Tapi biaya produksi tanaman padi juga naik, jadi pendapatan tetap berkurang,” paparnya.
Menurutnya, para petani tidak bisa mengurangi penggunaan pestisida, terutama saat cuaca tidak menentu. Hal itu lantaran ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) masih cukup tinggi.
“Sekarang lagi banyak hama tikus, wereng, dan ada juga penggerek batang. Jadi perlu penanganan menggunakan pestisida,” jelasnya.
Di tengah tekanan biaya yang membuat biaya produksi membengkak, para petani tetap menanam bibit padi. Untuk menekan pengeluaran, petani di Desa Tegal Karang mulai mencoba menggunakan pestisida organik sebagai alternatif pengganti pestisida kimia impor.
Para petani mulai memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar lingkungan untuk membuat pestisida sendiri. Penggunaan pestisida organik ini dinilai cukup efektif dan tidak jauh berbeda dibanding pestisida kimia.
“Ini salah satu cara kami bertahan di tengah mahalnya pestisida kimia,” terangnya.
Terpisah, pelayan toko kebutuhan pertanian di Desa Tegal Karang, Deni Apriliani (29), membenarkan adanya kenaikan hampir seluruh produk pestisida tersebut dalam satu bulan terakhir.
“Kenaikannya sekitar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu, yang tadinya Rp50 ribu sekarang saya jual Rp60 ribu,” ujar Deni.
Deni menjelaskan, kenaikan harga ini dipicu mahalnya bahan baku kemasan plastik dan bahan aktif impor. Kenaikan paling drastis terjadi pada selang air pertanian yang mencapai hampir 50 persen.
“Dari tadinya Rp90 ribu sekarang jadi Rp180 ribuan,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.

















