SUARA CIREBON – Warga Desa Kepuh, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Gunung Santri mengaku merasakan perubahan kondisi lingkungan setelah aktivitas pembuangan sampah di lokasi tersebut berhenti.
Warga menilai lingkungan menjadi lebih nyaman karena tidak lagi terganggu bau menyengat yang selama ini dikeluhkan.
‎Salah seorang warga Wika, mengatakan, dampak keberadaan TPAS selama beroperasi cukup dirasakan masyarakat. Selain bau tidak sedap, debu dan sampah yang berserakan juga menjadi persoalan yang kerap dirasakan sehari-hari.
‎“Pas TPAS Gunung Santri berhenti, dampaknya lebih baik karena tidak ada bau. Dulu waktu masih aktif, baunya terasa, debu juga banyak, sampah berserakan. Kalau ada sampah yang jatuh dari kendaraan sering tidak diambil lagi,” ujar Wika, Senin, 22 Juni 2026.
Sebagai ‎warga yang terdampak langsung dengan keberadaan TPAS, Wika mengaku tidak setuju apabila kontrak operasional TPAS Gunung Santri kembali dilanjutkan. Menurut Wika, kompensasi yang diterima warga selama ini tidak sebanding dengan dampak yang dirasakan.
‎“Setahun sekali hanya dapat Rp300.000, katanya juga dapat BPJS gratis dari pemerintah, tapi banyak masyarakat yang BPJS-nya sekarang tidak aktif. Sempat aktif, tapi pertengahan tahun ini tidak aktif lagi,” ucapnya.
‎Apabila operasional TPAS tetap dilanjutkan, Wika menilai pemerintah perlu meningkatkan besaran kompensasi bagi masyarakat terdampak.
‎“Kalaupun dilanjutkan kompensasinya jangan Rp300.000 setahun. Kerugian yang diterima warga itu debu, bau, bahkan jalan rusak,” tegasnya.
‎Sementara itu Kepala Dusun sekaligus petugas keamanan Desa Kepuh, Nono Haryono, mengatakan. terdapat tiga blok yang terdampak lalu lintas kendaraan pengangkut sampah menuju TPAS Gunung Santri.
‎“Ada tiga blok yang dilalui dari Desa Kepuh, yaitu Blok Desa, Blok Mirok, dan Blok Gunung Santri Kepuh,” ujarnya.
Nono menyebut, aspirasi masyarakat yang paling sering disampaikan berkaitan dengan kondisi jalan yang rusak serta layanan BPJS yang dinilai belum merata diterima warga terdampak.
‎“Tuntutannya soal jalan segera diperbaiki, ada juga soal BPJS gratis (PBI, red) yang belum merata. Harapannya tahun ini bisa diperbaiki,” jelasnya.
‎Sementara itu, seorang petugas di lapangan yang enggan disebutkan namanya menuturkan, saat ini tidak lagi terdapat aktivitas pembuangan sampah di TPAS Gunung Santri. Aktivitas yang masih berlangsung hanya berupa pemilahan sampah dan pembersihan area sekitar.
‎“Di TPAS Gunung Santri sudah tidak ada aktivitas pembuangan, hanya pemilahan saja dan paling membersihkan jalan sekitar,” katanya.
‎Kondisi peralatan operasional yang tersedia saat ini, dari total delapan alat berat yang dimiliki, sebagian besar tidak dapat beroperasi secara optimal.
‎“Total alat berat ada delapan unit, dua unit sedang dalam perbaikan dan dua unit lainnya sudah tidak layak dipakai,” jelasnya.
‎Sejumlah warga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial yang selama ini mereka rasakan sebelum mengambil keputusan terkait kelanjutan operasional TPAS Gunung Santri.
Selain itu perbaikan infrastruktur jalan dan kejelasan program BPJS bagi masyarakat terdampak menjadi tuntutan utama yang diharapkan segera mendapat perhatian.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















