SUARA CIREBON – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon mencatat potensi budaya yang ada di daerah ini mencapai 343. Dari jumlah tersebut, ada jenis-jenis makanan yang hampir punah dan akan kembali dimunculkan oleh Disbudpar.
Subkor Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, Iman Hermanto, mengatakan, ratusan potensi budaya yang tercatat itu bukan hanya dari seni, tapi juga ada unsur kebudayaan, yakni objek pemajuan budaya.
Unsur kebudayaan tersebut masuk ke dalam pengetahuan tradisional dalam bentuk manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, situs dan lainnya. Kemudian di pengetahuan tradisional, ada teknologi tradisional, permainan tradisional, olahraga tradisional, bahasa dan lainnya.
“Jumlahnya sekitar 343, itu yang tercatat di kita,” ujar Iman, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Iman, ratusan jumlah potensi budaya tersebut masih dinamis mengingat ada beberapa budaya yang belum masuk, di antaranya kuliner Cirebon dalam hal ini kue.
Ia memastikan, Disbudpar akan berusaha untuk mengeksplor dan memunculkannya lagi sebagai bahan potensi budaya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Cirebon.
“Dari 343 itu ada yang hampir punah, seperti makanan yang ketika kita kecil itu ada makanan yang namanya dodongkal. Itu kan sudah jarang tuh. Kita berusaha eksplor, munculkan lagi,” kata Iman.
Iman menyampaikan, masyarakat juga tidak lagi mengenal makanan golondo. Makanan berbahan dari ampas tahu itu biasanya sebagai pakan ternak. Tapi di tangan perajin tahu, ampas diolah menjadi makanan yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi masyarakat sekitar.
“Artinya, itu bentuk dari kreativitas perajin tahu untuk memuculkan dan mempopulerkan makanan tersebut,” jelasnya.
Menurut Iman, teknologi tradisional seperti pembuatan gerabah juga banyak yang hampir punah. Di antaranya tempat pembuatan gerabah yang jumlahnya cukup banyak di Kabupaten Cirebon.
Bukan hanya di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, tempat pembuatan gerabah juga ada di Arjawinangun, Ciledug, Pabedilan, Astanajapura dan lainnya.
Namun, tempat pembuatan gerabah di Arjawinangun dan Ciledug sudah hampir punah, hanya ada beberapa perajin yang bertahan untuk pemenuhan kebutuhan cowet pada tahu gejrot. Sementara di daerah Blender, Kecamatan Karangwareng yang dulu dikenal sebagai sentra pembuatan gerabah dan genteng, kini sudah tidak ada.
“Alhamdulillah Pak Kadis mendukung eksplor potensi budaya yang ada seperti kuliner, pengetahuan tradisional, serta kemahiran, dan jamu. Teknik tradisional itu banyak sebetulnya Kabupaten Cirebon,” paparnya.
Dengan dukungan masyarakat dan komunitas, Disbudpar bakal memperluas kolaborasi dengan menggandeng akademisi guna melakukan kajian dalam upaya penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
“Di pilar kebudayaan itu ada empat yakni pelestarian, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan. Nah, di pelestarian itu langkahnya di penetapan dan eksplor, kita munculkan,” ungkapnya.
Sementara dari segi pembinaan, Disbudpar bakal membuat program yang terkait dengan pembinaan, utamanya bagi sanggar-sanggar seni.
“Mudah-mudahan ke depan, dengan adanya kolaborasi itu dan dukungan pimpinan, kegiatan empat pilar itu bisa terwujud,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















