SUARA CIREBON – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon memperkuat serangkaian langkah antisipasi menghadapi fenomena El Nino berintensitas sangat kuat yang dikenal sebagai El Nino Godzilla. Fenomena ini diprediksi memicu kemarau lebih panjang, suhu ekstrem, serta berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, mengatakan, berdasarkan pemantauan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), puncak dampak kemarau ekstrem diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
”Risiko utama yang menjadi fokus kami adalah meningkatnya titik panas, kebakaran lahan, dan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah,” ujar Dede Sudiono, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Dede, TPA menjadi salah satu lokasi paling rentan terdampak cuaca ekstrem ini. Pasalnya, di dalam tumpukan sampah terkandung gas metan kadar tinggi yang sangat peka terhadap panas, sehingga bisa memicu kebakaran secara alami tanpa ada perbuatan manusia.
”Banyak masyarakat mengira kebakaran di TPA pasti karena dibakar orang, padahal bisa terbakar sendiri karena kandungan gas metan yang tinggi,” ucapnya.
Suhu udara luar saat ini rata-rata berkisar 33°C hingga 35°C, sementara suhu di dalam tumpukan sampah diprediksi jauh lebih panas, memperbesar risiko kebakaran spontan.
Untuk menekan risiko tersebut, DLH menerapkan dua langkah pengelolaan utama, seperti penerapan sistem semi-sanitary landfill, dimana tumpukan sampah diratakan dan ditutup tanah uruk secara berkala agar tidak menumpuk tinggi dan mengurangi ruang terbentuknya gas metan.
Kemudian, melakukan penyiraman terukur personel bersama armada truk tangki air untuk menyiram tumpukan sampah sesuai kebutuhan untuk menurunkan suhu.
”Penyiraman tidak berlebihan, secukupnya saja agar tidak memicu lonjakan volume air lindi yang berisiko mencemari lingkungan,” tegasnya.
DLH juga memperketat pemantauan titik panas sekaligus menegaskan larangan tegas pembakaran sampah dan lahan sembarangan.
Dede menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah semata, melainkan butuh kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Warga pun diimbau mulai memilah sampah sejak di rumah, minimal menjadi dua jenis.
”Untuk sampah organik, agar dapat diolah sendiri menjadi kompos atau dialihkan sebagai pakan maggot, sehingga tidak menumpuk di TPA dan menghasilkan gas metan. Sementara untuk sampah nonorganik dipisahkan karena memiliki risiko jauh lebih rendah dalam memicu pembentukan gas metan,” ungkapnya.
DLH juga telah mencatat data seluruh pemulung yang beraktivitas di TPA. Ia mengaskan, DLH terus memberikan edukasi keselamatan kerja, serta mengarahkan para pemulung yang mumpuni untuk beralih ke pekerjaan formal atau membangun usaha mikro.
”Kami tidak bisa langsung menghentikan aktivitas mereka, karena sudah menjadi mata pencaharian. Tapi tetap kami berikan pemahaman soal risiko longsoran sampah dan paparan gas beracun,” katanya.
Terkait perlindungan kesehatan, DLH berkoordinasi erat dengan Dinas Sosial serta Dinas Kesehatan untuk memastikan pemulung dan warga sekitar TPA mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, termasuk kepesertaan BPJS Kesehatan sesuai ketentuan berlaku.
Untuk kualitas udara di sekitar TPA justru relatif lebih baik dan intensitas bau lebih rendah saat musim kemarau ekstrem dibanding musim hujan. Hal ini disebabkan penguapan zat penyebab bau berjalan sangat cepat akibat suhu panas. Sementara saat musim hujan air hujan yang tergenang justru mempercepat pembusukan sampah.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















