SUARA CIREBON – Uji coba Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) dengan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) di Kabupaten Cirebon melampaui target.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Apip Sirojudin mengatakan, semula distan menargetkan uji coba PM-ASS metode tabela di lahan seluas 8 hektare saja.
Target uji coba tersebut diproyeksikan tersebar di delapan kecamatan dan dilakukan pada musim tanam kedua. Di mana, di tiap kecamatan hanya dibutuhkan 1 hektare lahan.
Menurut Apip, sebelumnya uji coba PM-AAS baru terealisasi di empat kecamatan yakni Kecamatan Susukan, Dukupuntang, Pabuaran dan Kecamatan Susukanlebak. Dalam perjalanannya, luas lahan uji coba PM-AAS meningkat drastis dalam hitungan hari.
“Tadinya memang baru di empat kecamatan, yaitu Susukan, Dukupuntang, Pabuaran dan Kecamatan Susukanlebak. Sekarang sudah ada empat kecamatan lagi, yaitu Kecamatan Palimanan, Gebang, Sedong dan Kecamatan Sumber,” ujar Apip Sirojudin, Kamis, 30 Juli 2026.
Apip menjelaskan, peningkatan luas lahan tersebut dipengaruhi tingginya animo para petani terhadap pertanian modern yang terus dikembangkan pemerintah, salah satunya adalah PM-AAS. Sehingga, beberapa kecamatan justru mengalami peningkatan jumlah luas lahan dari target 1 hektar yang telah ditetapkan Distan.
Peningkatan signifikan terjadi di Kecamatan Gebang dengan luas 9 hektare, kemudian disusul Kecamatan Susukanlebak seluas 2 hektare. Sementara di lima kecamatan lainnya rerata 1 hektare, dan Kecamatan Susukan 0,3 hektare.
“Delapan kecamatan tersebut sudah tanam PM-AAS. Di Susukan 0,3 hektare, Palimanan 1 hektare, Pabuaran 1 hektare, Gebang 9 hektare, Sedong 1 hektare, Susukanlebak 2 hektare, Dukupuntang 1 hektare dan Kecamatan Sumber 1 hektare, jadi totalnya 16,5 hektare,” paparnya.
Apip menambahkan, uji coba PM-AAS di Masa Tanam (MT) kedua ini merupakan momen yang sangat tepat. Karena, PM-AAS dengan metode tabela lebih cocok dengan kondisi lahan dengan air yang sedikit.
“Jadi lebih tepat diterapkan di MT kedua ini,” tegas Apip.
Ia menjelaskan, meski kebutuhan pupuk untuk PM-AAS lebih banyak dibanding penanaman biasa, Apip memastikan alokasi pupuk subsidi bagi petani yang menerapkan PM-AAS dengan sistem tabela ini akan ditambah sesuai kebutuhan. Tambahan kuota pupuk subsidi tersebut akan diatur melalui mekanisme penyesuaian Rencana Detil Kebutuhan Kelompok (RDKK).
“Kalau biasanya satu hektar itu butuh pupuk urea 225 kg, naik jadi 300 kg dan NPK jadi 400 kg. Untuk benih juga bertambah, biasanya 25 kg menjadi 70 kg. Tapi untuk benih sih ada bantuan dari Kementan, kalau pupuknya enggak,” kata Apip.
Sistem tabela tersebut juga mengharuskan penggunaan pupuk organik subsidi minimal 1 ton untuk satu hektare. Bahkan, pengaplikasian pupuk organik subsidi tersebut bersifat wajib.
Namun dari sisi kelebihan atau keunggulannya, pertanian modern PM-AAS ini bukan saja mempersingkat masa tanam, tapi juga hasil panen yang melimpah. Untuk luas lahan satu hektare, hasilnya bisa mencapai lebih dari 10 ton. Jika dibandingkan dengan sistem tanam biasa, ada selisih sekitar 3 sampai 4 ton. Selain itu, panen juga lebih cepat karena padi tidak terhambat stress.
Keuntungan lainnya, sistem tabela ini lebih hemat tenaga kerja. Petani tidak lagi membutuhkan banyak pekerja karena penanaman benih padi dilakukan dengan menggunakan alat drumsider.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.


















