SUARA CIREBON – Kemarau yang diprediksi bakal berlangsung panjang pada tahun 2026 di Indonesia, memicu terjadinya krisis air termasuk pasokan untuk kebutuhan lahan pertanian. Kondisi tersebut, terlihat pada Embung Geyongan, Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, yang kini mengering.
Embung yang selama ini menjadi tumpuan pengairan lahan pertanian setempat, tidak lagi dipenuhi genangan. Dasar embung terlihat jelas dengan konsisi tanah retak-retak ditumbuhi rumput liar. Meski masih terdapat genangan di sejuumlah titik, namun ketinggian air terpantau hanya beberapa centimeter saja dan diprediksi bakal ikut mengering dalam beberapa hari ke depan.
Dinding beton penahan tanah tampak terlihat jelas. Sementara pipa-pipa plastik milik petani yang menyedot sisa air menggunakan pompa, tampak terhampar di antara rumput dan tanah yang retak-retak.
Penjaga Embung Geyongan, Mansyur, menjelaskan, kondisi kekeringan yang menyebabkan air embung menyusut dipicu faktor cuaca ekstrem.
“Embung Geyongan ini luasnya sekitar 4,5 hektare dengan kapasitas tampung maksimal 70.400 meter kubik. Dalam kondisi maksimal, embung mampu mengairi sekitar 60 hektare sawah,” kata Mansyur, saat ditemui di lokasi, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut Mansyur, kekeringan yang terjadi pada tahun ini tergolong paling ekstrem. Pasalnya pada tahun sebelumnya, embung masih mendapat pasokan air dari Sungai Walahar di Kabupaten Majalengka yang berjarak sekitar 18 kilometer.
“Kalau tahun kemarin masih ada tampungan untuk pengisian embung di sini. Sekarang aliran dari arah Giwangan tidak memungkinkan mengisi embung karena debit airnya kecil dan jaraknya sekitar 18 kilometer,” ujarnya.
Mansyur menuturkan, aliran air masih normal hingga April dan Mei 2026. Namun memasuki Juni, debit air mulai menurun sehingga permukaan embung terus menyusut hingga akhirnya mengering.
”Bulan April dan Mei masih ada air masuk. Bulan Juni sudah mulai surut, akibat mengeringnya embung. Petani di Desa Geyongan mulai kesulitan mendapatkan air untuk mengairi tanaman. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi produktivitas pertanian apabila kemarau berlangsung lebih lama,” katanya.
Kini, sisa air yang masih bertahan hanya bisa dimanfaatkan melalui sistem penggiliran. Air dipompa setiap empat hari sekali, namun jumlahnya sangat terbatas sehingga hanya mampu mengairi area di sekitar embung.
“Pengisian dilakukan empat hari sekali, tapi airnya hanya bertahan sekitar satu sampai dua hari. Tingginya juga paling sekitar 30 sampai 40 sentimeter,” ujarnya.
Dari total 60 hektare lahan yang dilayani embung, sekitar 20 hektare mulai terdampak kekurangan pasokan air. Sebagai solusi sementara, para petani terpaksa memompa air dari Bendungan Rentang untuk mengairi sawah.
Cara tersebut dinilai cukup membantu, meski membutuhkan biaya operasional tambahan dan belum mampu sepenuhnya menggantikan pasokan air dari Embung Geyongan.
“Memang banyak petani yang datang kemari mengeluhkan masalah air, karena biasanya dapat air dari sini, sekarang nggak dapat. Kami sarankan para petani mengadakan pompanisasi langsung ke embung,” katanya.
Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
“Betul sekali, konsekuensinya memang menambah biaya,” tandasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















