SUARA CIREBON – Produksi garam rakyat di Kabupaten Cirebon mulai kembali meningkat pada 2026. Namun, kenaikan produksi justru dibarengi tekanan harga di tingkat petambak yang kini anjlok ke kisaran Rp600 hingga Rp800 per kilogram.
Pembina Mutu Hasil Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Cirebon, Eka Reza Kurniawan, mengatakan penurunan harga merupakan konsekuensi meningkatnya pasokan garam di pasaran.
“Harga turun ini sudah hukum pasar supply demand. Jadi ketika banyak suplai, pasti harganya lebih rendah,” kata Eka, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya. Ketika produksi garam Cirebon anjlok pada 2025, harga di tingkat petambak sempat melonjak hingga Rp2.800 per kilogram.
Data DKPP Kabupaten Cirebon mencatat produksi garam terus merosot dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, produksi mencapai 116.000 ton, kemudian turun menjadi 91.000 ton pada 2024.
Penurunan paling drastis terjadi pada 2025. Produksi garam hanya mencapai sekitar 12.000 ton.
Menurut Eka, cuaca buruk dan banjir rob menjadi faktor utama yang menghambat produksi. Genangan air laut mengganggu aktivitas tambak, terutama di wilayah pesisir Kapetakan dan Pangenan.
Memasuki 2026, kondisi cuaca lebih mendukung produksi. Pemerintah Kabupaten Cirebon menargetkan produksi garam mencapai 75.000 ton.
“Di 2026 ini alhamdulillah cuacanya sudah mendukung untuk produksi garam. Tahun 2026 ini kita punya target 75.000 ton,” ujarnya.
Produksi Diprediksi Melonjak Mulai Agustus
Peningkatan produksi mulai terlihat pada pertengahan tahun. Pada Juni 2026, produksi garam tercatat sekitar 300 ton. Angka tersebut meningkat drastis menjadi sekitar 3.000 ton pada Juli.
Eka memperkirakan produksi akan melonjak pada Agustus hingga Oktober.
“Puncak-puncaknya ini di bulan Agustus, September, Oktober, bisa di atas 30.000 sampai 40.000 ton,” katanya.
Namun, peningkatan produksi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petambak karena pasokan yang melimpah berpotensi semakin menekan harga jual.
Eka menyebut kondisi iklim pada 2026 memberikan dampak positif terhadap produksi garam. Meski demikian, kemarau yang berlangsung terlalu panjang juga dapat memunculkan persoalan baru.
Salah satunya berkaitan dengan pasokan air laut menuju area tambak. Kemarau panjang dapat menghambat aliran air laut melalui sungai-sungai sekunder yang selama ini dimanfaatkan petambak.
Kondisi tersebut diperparah tingginya sedimentasi di sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Cirebon.
“Jadi airnya itu harus melewati sedimentasi dulu. Itu menjadi permasalahan ketika kemaraunya terlalu tinggi atau panjang,” jelas Eka.
Harga Turun dari Rp1.100 Jadi Rp650 per Kg
Tekanan harga dirasakan langsung petambak garam. Wargah, buruh tambak garam di Kandawaru, Kecamatan Mundu, mengatakan harga garam saat ini berada di sekitar Rp650 per kilogram.
“Harganya turun, anjlok, Rp650 per kilo,” ujar Wargah, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurutnya, harga tersebut turun cukup tajam dibandingkan awal musim panen. Saat panen pertama, garam masih dihargai sekitar Rp1.100 per kilogram.
“Sebelumnya Rp1.100 waktu pertama, awal,” katanya.
Wargah mengatakan penurunan harga berlangsung secara bertahap dan dirasakan hampir setiap hari sejak Juli.
Di sisi lain, petambak juga menghadapi persoalan pasokan air. Sejumlah area tambak garam mengalami kekeringan sejak Juli.
Kondisi tersebut terjadi ketika ancaman banjir rob mulai berkurang. Minimnya genangan air laut justru membuat sebagian area tambak kekurangan bahan baku untuk proses produksi garam.
“Garam kan dibuatkan dari air, kalau airnya tidak ada ya bingung,” ucapnya.
Wargah memperkirakan produksi garam akan mencapai puncaknya pada September. Namun, di tengah potensi lonjakan produksi tersebut, petambak kini harus menghadapi persoalan lain: harga garam yang terus tertekan.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















