SUARA CIREBON – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon sedang merumuskan penyatuan Haul Kanjeng Sunan Gunung Jati agar digelar secara akbar pada September 2026. Agenda tersebut direncanakan melibatkan kota dan kabupaten lain yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Cirebon.
Pembahasan penyatuan haul akan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari budayawan, unsur pemerintah, kalangan pesantren hingga keraton. Sebagai langkah awal, haul direncanakan digelar bersama pada September 2026.
Ketua MUI Kabupaten Cirebon KH Zamzami Amin mengatakan, penyatuan haul diharapkan menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarelemen masyarakat sekaligus memperluas jangkauan silaturahmi Cirebon.
Menurutnya, pengaruh sejarah Cirebon tidak berhenti di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon. Jejak hubungan tersebut juga menyambung ke Banten, Jakarta, Jawa Barat hingga sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
“Melalui haul ini kita ingin mengumpulkan kekeluargaan, mempererat silaturahmi dan melakukan penguatan ekonomi, baik ketahanan pangan, sandang maupun papan,” kata Zamzami, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ia menilai Cirebon memiliki posisi penting sebagai titik temu berbagai latar belakang masyarakat. Menurutnya, Cirebon tidak bisa hanya dilihat sebagai wilayah Sunda maupun Jawa.
Di Cirebon terdapat berbagai komunitas dan latar budaya, termasuk masyarakat Tionghoa serta hubungan sejarah dengan masyarakat dari luar negeri seperti Irak dan Maroko.
“Intinya, Cirebon ini bertaraf go international. Bagaimana Cirebon menjadi rahmatan lil ‘alamin, bisa menggabungkan semuanya,” terangnya.
Mengenai waktu pelaksanaan haul, Zamzami mengatakan kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada September 2026. Namun, tanggal pastinya belum disepakati dan akan dibahas dalam minggu-minggu ini.
“Untuk tanggal belum ada kesepakatan. Ini pun sifatnya masih jangka pendek. Karena merumuskan waktu dalam satu momentum haul harus melibatkan banyak pihak,” tuturnya.
Ia berharap ke depan pelaksanaan haul tidak lagi berjalan dalam kelompok masing-masing. Seluruh rangkaian haul Sunan Gunung Jati diharapkan dapat menyatu sebagai bentuk birrul walidain, yakni penghormatan dan bakti kepada para leluhur.
“Semoga tidak ada lagi kubu pertama, kedua atau ketiga. Semua kegiatan haul menyatu menjadi satu sebagai bentuk birrul walidain,” katanya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















