SUARA CIREBON – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon mencatat 595,1 hektare sawah terdampak kekeringan yang tersebar di 32 desa pada 13 kecamatan.
Dari dampak tersebut, sekitar 20 hingga 30 hektare sawah berpotensi mengalami puso atau gagal panen dan masih dalam pemantauan petugas di lapangan.
Kepala Distan Kabupaten Cirebon, Deny Nurcahya, mengatakan ratusan hektare lahan terdampak kekeringan terbagi dalam tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat.
“Sebanyak 415,9 hektare mengalami kekeringan ringan, 175 hektare kekeringan sedang dan 4,2 hektare kategori berat,” ujar Deny Nurcahya, Selasa, 1 September 2026.

Potensi Puso di Ciwaringin dan Beber
Menurut Deny, dari sejumlah laporan yang diterimanya, potensi puso ditemukan di antaranya di Kecamatan Ciwaringin dan Beber.
“Potensi puso kemungkinan sekitar 20 hektare atau 30 hektare ada. Beberapa sudah ada laporan di Ciwaringin, Beber juga ada sebagian. Mudah-mudahan bisa segera tertanggulangi,” kata Deny.
Ia menjelaskan, kekeringan terjadi akibat penurunan debit air secara drastis. Kondisi tersebut semakin menyulitkan petani di wilayah yang tidak memiliki sumber air alternatif.
Sejumlah wilayah terdampak kekeringan meliputi Kecamatan Sedong, Mundu, Beber, Palimanan, Plered, Tengahtani, Gunung Jati, Klangenan, Ciwaringin, Gempol, Susukan, Suranenggala dan Jamblang.

Distan Kerahkan Ratusan Pompa
Distan telah melakukan intervensi melalui penyediaan ratusan pompa untuk membantu mengairi lahan yang masih memiliki sumber air. Sedikitnya 120 unit pompa berkapasitas 6 inci, pompa 3 inci dan 20 unit pompa 4 inci dapat digunakan untuk membantu pengairan lahan terdampak.
“Kami juga mengintervensi melalui pembangunan irigasi perpompaan di sejumlah titik. Salah satunya di Blok Kayen, Desa Susukan, Kecamatan Susukan, yang memiliki areal sawah sekitar 309 hektare,” paparnya.
Di lokasi tersebut, pemerintah memasang pompa dan jaringan pipa sepanjang 2,2 kilometer yang mengambil sumber air dari Saluran Rentang Kanan. Langkah serupa juga dilakukan di wilayah Desa Geyongan dengan memasang pompa sentrifugal dengan jaringan pipa sepanjang 1,5 kilometer.
“Kalau ada sumber airnya, kita lakukan perpompaan. Minggu ini irigasi perpompaan juga sedang dipasang di 40 titik,” papar Deny.

Sumur Bor untuk Wilayah Tanpa Sumber Air
Untuk wilayah yang tidak memiliki sumber air permukaan, pemerintah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) melalui program penyediaan air tanah menggunakan sumur bor.
Namun, upaya tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus terlebih dahulu diketahui potensi air tanahnya.
“Daerah yang kekeringan atau tidak ada irigasinya itu tidak mesti air tanahnya ada. Jadi harus dicek dulu sumber air tanahnya,” terangnya.
Deny mencontohkan kondisi tanah di wilayah Kecamatan Sedong cenderung berupa lempung, sehingga pengeboran yang dilakukan tidak selalu menghasilkan sumber air.
Percepatan Tanam Jadi Solusi Jangka Panjang
Selain penanganan tersebut, salah satu langkah penting dalam menghadapi kekeringan yang berulang adalah percepatan tanam.
Deny menyampaikan, wilayah yang secara rutin mengalami kekeringan perlu mengatur waktu tanam agar masa pertumbuhan tanaman tidak bertepatan dengan periode kemarau panjang.
“Untuk upaya jangka panjangnya ya harus dilakukan percepatan tanam,” ungkapnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















