SUARA CIREBON – Potongan busa, kain, benang, dan sisa material industri yang kerap dianggap tak bernilai disulap Suhendra menjadi mainan tradisional berbentuk ayam, barongsai hingga naga.
Di Blok Tegalan, Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, keterampilan membuat mainan tersebut masih dipertahankan secara turun-temurun. Bahan sisa industri yang masih layak dan aman diolah secara manual menjadi mainan berwarna-warni yang memiliki nilai jual.
“Di sini memang sudah turun-temurun membuat mainan tradisional. Bahan-bahannya banyak memanfaatkan limbah industri,” ujar Suhendra, Senin, 7 September 2026.
Bagi Suhendra, membuat mainan tradisional bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan uang. Aktivitas tersebut juga menjadi cara mempertahankan keterampilan dan tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Setiap hari, Suhendra bersama lima warga sekitar mengerjakan berbagai tahapan produksi, mulai dari menyiapkan bahan, memotong busa, menjahit kain, merakit hingga memberikan warna.
Seluruh proses masih dilakukan secara konvensional. Busa dipotong sesuai pola, kemudian dipadukan dengan kain dan benang. Bagian-bagian tersebut selanjutnya dijahit dan dirakit menggunakan lem sebelum memasuki tahap pewarnaan.
Ketelitian menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Setiap potongan harus memiliki ukuran yang sesuai agar ketika dirakit menghasilkan bentuk mainan yang utuh dan menarik.
Untuk memproduksi sekitar tiga kodi atau 60 buah mainan, Suhendra bersama lima pekerja membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Lamanya proses produksi membuat setiap mainan memiliki karakter tersendiri karena dikerjakan satu per satu dengan tangan.
Mainan hasil produksi tersebut dijual dengan harga sekitar Rp10.000 per buah. Meski dibuat secara manual, peminatnya masih cukup tinggi.
Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Cirebon. Mainan buatan perajin Blok Tegalan itu juga dikirim ke berbagai daerah di luar Kabupaten Cirebon, bahkan telah menjangkau sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa.
Bagi Suhendra, permintaan tersebut menunjukkan mainan tradisional masih memiliki pasar di tengah maraknya permainan modern. Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu daya tarik produk yang dibuat dari bahan sederhana tersebut.

Namun, mempertahankan mainan tradisional bukan perkara mudah. Perkembangan teknologi membuat anak-anak memiliki semakin banyak pilihan permainan, mulai dari mainan elektronik hingga permainan digital dengan berbagai fitur.
Kondisi itu membuat Suhendra berupaya mengikuti perkembangan selera pasar tanpa menghilangkan karakter tradisional produknya. Bentuk dan tampilan mainan terus diperhatikan agar tetap menarik di tengah persaingan dengan produk modern.
Menurutnya, mengikuti perkembangan zaman tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Kreativitas justru diperlukan agar keterampilan membuat mainan tradisional tetap bertahan dan dapat dikenal generasi berikutnya.
“Harapannya mainan tradisional ini tetap bertahan dan tidak kalah dengan mainan modern. Kami akan terus mencoba membuatnya menarik, tetapi nilai tradisionalnya tetap dipertahankan,” ucapnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















