SUARA CIREBON – Kecmatan Pabuaran menjadi salah satu wilayah andalan budidaya bawang merah di Kabupaten Cirebon. Di tengah persoalan ketersediaan air yang membatasi aktivitas tanam di sejumlah kecamatan, petani Pabuaran masih mempertahankan budidaya dengan dukungan sumber air dari sumur dalam.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, mengatakan areal bawang merah di Pabuaran saat ini mencapai sekitar 60 hektare. Tanaman di lahan tersebut baru memasuki usia tanam sekitar satu minggu.
“Di Pabuaran masih berani menanam karena sumur dalamnya masih ada air,” ujar Deni, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah lain, seperti Gebang, Babakan, dan Ciledug, yang menghadapi kendala ketersediaan air untuk pertanian.
Dalam satu musim tanam, luas areal budidaya bawang merah di Kabupaten Cirebon dapat mencapai sekitar 450 hektare. Adapun hasil panen terakhir mencatat produktivitas sekitar 16 ton per hektare.
Capaian tersebut menunjukkan potensi bawang merah di Kabupaten Cirebon masih cukup besar. Namun, keberlanjutan produksi sangat bergantung pada ketersediaan air, kondisi lahan, serta kemampuan petani menghadapi risiko selama masa budidaya.
Selain faktor produksi, harga jual juga menjadi perhatian petani. Deni menyebut harga bawang merah di pasar berada di kisaran Rp22.000 per kilogram, sedangkan petani berharap harga di tingkat lahan mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram.
“Petani kan tidak hanya menghadapi risiko produksi akibat cuaca dan ketersediaan air, tetapi juga harus memperhitungkan biaya budidaya hingga masa panen,” jelasnya.
Dinamika budidaya bawang merah di Kabupaten Cirebon juga terlihat dari perubahan sentra produksi dalam tiga tahun terakhir. Jika sebelumnya Losari dan Pabedilan menjadi wilayah utama, kini Pabuaran dan sejumlah kecamatan lain turut berkontribusi terhadap produksi komoditas hortikultura tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon yang dihimpun dalam naskah ini, pada 2023 Pabedilan menjadi penghasil bawang merah terbesar dengan produksi mencapai 90.400 kuintal. Gebang berada di posisi berikutnya dengan 86.780 kuintal, disusul Pabuaran sebanyak 64.440 kuintal.
Pada tahun yang sama, Losari mencatat produksi 41.660 kuintal dan Waled sebanyak 18.010 kuintal.
Setahun kemudian, Pabedilan masih menjadi salah satu sentra utama dengan produksi 87.230 kuintal. Sementara itu, Losari mencatat peningkatan produksi hingga 82.600 kuintal.
Di sisi lain, produksi Pabuaran pada 2024 tercatat 43.500 kuintal, Gebang 41.640 kuintal, dan Waled 22.310 kuintal.
Perubahan berlanjut pada 2025 ketika Losari menempati posisi teratas dengan produksi 85.629 kuintal. Pabedilan berada di urutan kedua dengan 71.700 kuintal, sedangkan Pabuaran mencatat produksi 49.308 kuintal.
Babakan juga masuk dalam jajaran lima besar dengan produksi 29.520 kuintal, sementara Gebang mencatat 26.100 kuintal.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sentra produksi bawang merah di Kabupaten Cirebon tidak selalu terkonsentrasi di wilayah yang sama. Kondisi lahan, ketersediaan air, dan keputusan petani untuk menanam menjadi faktor yang memengaruhi perkembangan produksi di setiap kecamatan.
Dengan produktivitas panen yang mencapai sekitar 16 ton per hektare, ketersediaan air yang memadai dan harga jual yang menguntungkan diharapkan dapat menjaga keberlanjutan budidaya sekaligus mendukung kesejahteraan petani bawang merah di Kabupaten Cirebon.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















