by

Berjuang Lawan Covid -19 yang Bersarang di Tubuh, Ketua IDI Kota Cirebon Alami Panas Tinggi hingga Darah Menggumpal

KOTA CIREBON, SC- Dua bulan berjuang memerangi Covid-19 yang sempat menyerang tubuhnya, tokoh penting di Kota Cirebon ini, kini sudah menjalani kehidupan seperti biasa. Tokoh penting itu adalah Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Cirebon yang memiliki nama lengkap Muhammad Edial Sanif atau akrab disapa dokter Edial.

Sebagai orang pernah terpapar Covid-19, dirinya tak segan membagikan pengalamannya, agar masyarakat lebih waspada dalam menerapkan protokol kesehatan.

Edial menuturkan, setelah dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 pada September lalu, hal pertama yang ia rasakan adalah rasa nyeri yang tak kunjung mereda, dibarengi dengan panas tinggi yang tak kunjung turun.

Ia lalu berinisiatif melakukan tes swab (usap) secara mandiri di salah satu rumah sakit di Kota Cirebon. Hasil tes usap menunjukkan, dokter spesialis jantung ini dinyatakan positif Covid-19.

“Dinyatakan positif terpapar Covid – 19 pada September lalu dan sempat dirawat di RS Pertamina seminggu,” kata Edial, Senin (30/11/2020).

Edial menceritakan, selama Covid-19 bersarang di tubuhnya, satu minggu pertama dihabiskan di ruang isolasi mandiri di rumah sakit. Dia kemudian dirujuk ke salah satu barak yang dikhususkan untuk penanganan pasien Covid-19 di Kampus UI Depok, karena kondisinya terus memburuk.

“Virus ini menyerang sistem pertahanan tubuh, suhu tubuh menjadi tinggi, lalu paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, dilanjut dengan penyerangan pada sistem pencernaan atau diare, kemudian menyerang jantung kardiovaskular menyebabkan berdebar dan ritme jantung tidak teratur, sehingga dapat dikatakan hampir seluruh sistem yang ada diserang secara bersamaan yang menyebabkan penurunan imunitas,” jelasnya.

Dalam masa penyembuhannya di barak penanganan Covid-19 di Depok, ia hanya berteman dengan telepon seluler (handphone) yang terus digengam, salah satu penghibur selain berinteraksi dengan pasien lainnya.

“Di sana saya dirawat oleh satu perawat, perawat tersebut datang untuk mengambil handphone saya namun saya menolak. Saya minta izin untuk handphone tetap di dekat saya karena hanya hanphone yang menjadi penghibur saya berkomunikasi dengan keluarga di rumah melalui video call,” tuturnya lirih sembari menggengam handphonenya erat, seakan menjadi saksi hidup perjuangannya melewati masa paling berat itu.

Meski termasuk tokoh yang pintar di bidang kesehatan, namun serangan corona virus disease 2019 (Covid-19) benar-benar membuatnya kewalahan. Ketika itu, ia sudah melakukan segala macam cara hingga pada akhirnya memasrahkan kesembuhannya pada Allah SWT.

“Ketika saya dirujuk ke RS di Depok, virus ini membuat darah saya menggumpal, ketika cek darah saja tidak bisa keluar, di situ perawat panik dan saya diberi obat untuk mencairkan darah. Alhamdullah Allah memberi saya keajaiban,” paparnya penuh syukur.

Lalu lalang pasien terkonfirmasi sembuh, datang baru, hingga meninggal disaksikan oleh Edial dengan mata telanjang. Begitu sangat menyeramkannya virus itu, namun akhirnya hari-hari terberat itupun bisa ia lalui dengan istiqomah menjalankan anjuran yang diberikan perawat yang menangananinya.

BACA JUGA: Gawat, 24 Ibu Hamil Positif HIV/AIDS

Empat puluh lima hari terberat bagi seorang Edial Sanif berperang melawan wabah virus asal Cina yang berakhir dengan senyuman dan menjadikannya pelajaran tentang begitu berharganya hidup.

“Saya berpesan pada masyarakat agar tidak menyepelekan Covid-19 ini. Tetap terapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) juga menjaga aman, imun dan iman,” pungkasnya. (Surya)

Comment