by

Ditulis KH Tubagus Latifudin 370 Tahun lalu, Alquran dari Kulit Kayu di Pagaraji Majalengka Masih Terjaga

TAK hanya di Desa Alor Besar, Kecamatan  Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Alqur’an berusia ratusan tahun yang ditulis di atas kulit kayu juga dimiliki oleh warga Desa Pagaraji, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka.

Alqur’an yang sudah berusia 370 tahun dan masih terawat dengan baik itu, merupakan salah satu peninggalan dari ulama besar KH Tubagus Latifudin dan dibuat pada sekitar tahun 1650 tahun silam.

Saat ini Alqur’an unik tersebut disimpan oleh Kuwu Hormat Ridwanudin. Kuwu Hormat merupakan keturunan ketujuh dari KH Muhammad Latifudin atau yang dikenal dengan nama Tubagus Latifudin, penulis Alqur’an di atas kulit kayu tersebut.

“Alhamdulillah usia Alqur’an ini sudah ratusan tahun dan kami merawatnya secara turun temurun, dari generasi ke generasi,” kata Kuwu Hormat, Minggu (18/4/2021).

BACA JUGA: Masjid Al-Karomah Depok, Keaslian Bangunannya Masih Terjaga

Menurut dia, Alqur’an dari kulit kayu tersebut masih utuh dan kondisinya sebagian besar masih bagus. Karena dijaga dan dirawat secara khusus. Alqur’an dari kulit kayu itu hanya dibaca setahun sekali ketika haul (memperingati wafatnya) KH Tubagus Latifudin, dibaca bersama-sama dengan warga.

“Untuk menjaga agar Alqur’an ini tidak cepat rusak mengingat usianya yang sudah ratusan tahun, maka dibacanya hanya sekali dalam setahun, yaitu saat haul dan hanya surah Yaa Siin saja,” ungkapnya.

Menurut pria yang ramah ini, Alqur’an tulisan tangan itu, sejatinya merupakan warisan turun temurun yang sangat istimewa dan sangat berharga. Hanya saja, karena bentuknya bukan kekayaan seperti emas dan perak, maka Alqur’an tersebut aman dari rebutan tangan-tangan jahat tak bertanggung jawab.

“Ini warisan biasanya rebutan. Dalam hal ini, yang diperebutkan adalah isi dari pengetahuan Alqur’an. Secara garis besar, Alqur’an mengajarkan untuk jangan terlalu mengejar duniawi,” ucapnya.

KH Tubagus Latifudin, penulis Alqur’an ini, lanjut dia, memiliki hubungan kekerabatan dengan kerajaan Talaga Manggung, juga ada hubungannya dengan Pamijahan, Kasepuhan Kawunggirang dan Cijati. Namun, soal silsilah nasab keturunan yang lebih detail Kuwu Hormat mengaku kurang begitu hapal.

“Dulu hanya diberitahu secara lisan saja, jadi tak ada jejak tulisannya,sebagian sudah lupa,” ujarnya.

Selain Alqur’an kuno, lanjut dia, peninggalan Tubagus Latifudin juga berbentuk benda pusaka berupa senjata keris dan tombak. Dan semua peninggalan itu tersimpan dengan baik.

BACA JUGA: Jamaah Masjid Al Imam Majalengka Dibatasi

Terpisah, Ketua Grup Madjalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana berharap ada penelitian khusus tentang jejak tulisan tangan Alqur’an yang sudah berusia 370 tahun lebih itu.

“Kami telah melihat langsung Alqur’an itu dirawat dan dijaga oleh orang yang tepat. Sayangnya belum ada perhatian dari pemerintah, terhadap makam maupun peninggalan Kiai Latifudin. Dan makam tersebut ketika haul dikunjungi ribuan orang. Wisata religi telah terbentuk di Pageraji (Kabupaten Majalengka),” kata pria yang akrab disapa Naro tersebut. (Dins)

Comment