by

Pembentukan Pascasarjana UMC Mengemuka, Rektor Paparkan Keberhasilan Kampus di Wisuda XXVII

CIREBON, SC- Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda XXVII, Sabtu (23/10/2021). Kegiatan yang dilangsungkan di gedung Convention Hall kampus 2 UMC di Jalan Fatahillah, Kelurahan Watubelah, Kabupaten Cirebon ini diikuti sebanyak 573 wisudawan.

Dalam kesempatan ini, Rektor UMC, Arief Nurudin MT memaparkan berbagai perkembangan dan kemajuan kampus setempat yang sekarang telah berumur 21 tahun. Seperti, kata dia, peningkatan jumlah dosen bergelar doktor, prestasi mahasiswa di bidang non akademik, serta infrastuktur untuk kualitas menajemen dan pembelajaran yang semakin baik.

“Universitas Muhammadiyah Cirebon menunjukkan dinamika positif, baik setiap kelembagaan maupun capaian target kinerja SDM (Sumber Daya Manusia) serta capaian target secara kuantitas maupun kualitas mahasiswa,” katanya.

Bahkan, lanjut Arief, UMC pun dalam perkembangannya telah mengalami lompatan kemajuan yang luar biasa. Seperti, di tahun 2021 ini kampus setempat telah mencetak 8 dosen lulus program S3 bergelar doktor.

Ke-8 doktor itu, papar Arief, ialah Dr Endah Nurhawaeny Kardiaty SE MSi yang berhasil menyelesaikan S3 di Universitas Negeri Solo, Dr Nurul Chamidaho SSosI MIkomI di Universitas Gadjah Mada, Tania Avianda Gusman MSc PhD di Osaka University, Dr Cucu Sopiah SPd MSi di Universitas Negeri Jakarta, Dr Arief Hidayat Afendi SHI MAg di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr Abdul Basit Atamimi SHI MHum di UIN Bandung, Dr Fakhri Fajrin Kurniawan MPd di Universitas Negeri Jakarta, dan Dr Irfan Fauzi Rachmat MPd di Universitas Negeri Jakarta.

“UMC punya target sampai tahun 2024 mencetak 60 doktor, 4 guru besar, dan 45 lektor kepala,” jelasnya.

Dari target tersebut, terang Arief, saat ini telah tercapai sebanyak 34 doktor dari dosen UMC. Bahkan, masih banyak lagi dosen kampus setempat yang saat ini masih menempuh pendidikan S3 untuk menjadi doktor.

“Insya Allah tahun depan (2022) ada 10 lagi dosen UMC yang akan menjadi doktor,” ujarnya.

Selain pengembangan SDM, kata Arief, di usia ke 21 UMC ini juga kampus setempat berhasil meningkatkan prestasi mahasiswa. Salah satunya dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

“Mahasiwa UMC berhasil mengharumkan nama Jawa Barat melalui prestasi yang diperoleh oleh mahasiwa di PON Papua tahun 2021. Di antaranya, Mar’atus Sholehah Trianaputri juara ke-3 peraih medali perunggu cabang olahraga sport climbing dari Program Studi Akuntansi, Nurlaela Azhara salah satu atlet bola basket dari kontingen PON Jawa Barat dari Program Studi IKOR,” jelas Rektor Arief.

Sehingga, ungkap Arief, periode tahun 2020 sampai 2021 ini UMC mampu bersaing dengan berbagai universitas, baik negeri maupun swasta dalam memeroleh hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka dari Kemendikbud Ristek.

Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil kerja keras bersama seluruh civitas akademika UMC. Termasuk pimpinan-pimpinan UMC terdahulu yang lua biasa dalam memajukan kampus setempat.

“Itu dibuktikan dengan telah diimplementasikannya kurikulum perguruan tinggi bermuatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan berbagai pendekatan pembelajaran, di antaranya project based learning, case method, dan Project based industry,” ungkapnya.

Melalui berbagai kemajuan tersebut, terang Arief, pihaknya ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua mahasiswa UMC. Sehingga, salah satunya dengan infrastruktur yang memadai, mahasiwa kampus setempat dapat secara mekasimal menyerap berbagai ilmu dari mata kuliah yang diajarkan di dalam kelas.

“Mudah-mudahan lulusan UMC dapat memberikan jawaban kepada masyarakat dengan kompetensinya masing-masing. Mereka dapat berkarya di masyarakat, sehingga keilmuan yang mereka dapatkan semasa kuliah dapat bermanfaat dan dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof H Lincolin Arsyad PhD menilai, perkembangan UMC terutama di bidang infrastruktur yang menjadi sarana dan prasarana pendidikan sudah sangat baik.

“UMC sudah okelah. Jumlah dosen bergelar doktor juga terus bertambah, karena yang menjadi pilar utama perguruan tinggi adalah dosen. Alhamdulillah tadi kita lihat ada doktor-doktor baru. Jadi secara akademis sudah cukup memadai dan harus terus ditambah,” katanya.

Pasalnya, menurut Prof Lincolin, dosen di sebuah universitas harus didominasi yang bergelar doktor. Namun, pihaknya menyadari bahwa hal tersebut membutuhkan waktu dan proses yang dilakukan secara bertahap.

“Itu bertahap dan UMC sudah sangat bagus,” ucapnya.

BACA JUGA: Raih IPK 3,96, Yasmin Dinobatkan Mahasiswi Terbaik UMC

Dengan peningkatan jumlah dosen bergelar doktor tersebut, Prof Lincolin mengungkapkan, pihaknya berencana membuka pascasarjana di UMC. Rencana tersebut pun telah didiskusikan dan akan direalisasikan dalam waktu dekat.

“Jadi memang ada rencana sebuah universitas memiliki program pascasarjana. Kita sudah diskusi dengan teman-teman ada rencana untuk membuka pascasarjana Magister Manajemen (MM) di UMC. Jadi tinggal disiapkan saja proposal yang lengkap dan baik. Kalau soal gedung mah gampang. Ini saya optimis,” ungkapnya.

Dia menargetkan, dengan SDM dan infrastruktur yang dimiliki UMC, pascasarjana kampus setempat dapat direalisasikan di tahun 2022 mendatang. Pasalnya, UMC berdiri di wilayah yang melingkupi daerah lain, seperti Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).

“Yang utama itu dosen, ini sudah memadai, sudah cukup. Jadi Alhamdulillah, dalam waktu dekat tidak lama lagi ya MM kita keluar. Kalau bisa tahun depan. Artinya peluangnya itu masih luas. Ini harapan kita dalam waktu dekat,” tuturnya.

Bahkan, Prof Lincolin menilai, dengan luas wilayah di Ciayumajakuning, peluang untuk didirikannya pascasaraja ini sangat terbuka lebar. Selain itu, UMC pun dinilai mampu bersaing dengan kampus-kampus lain yang berada di wilayah tersebut.

“Untuk MM itu kan pasarnya gak harus luas. Satu angkatan ada 30 mahasisa saja itu sudah sangat bagus, karena kalau S2 kalau kebanyakan gak bagus juga. Kalau ada 60 mahasiswa ya kita bikin 2 kelas,” tandasnya. (Arif)

Comment