by

Dampak Pelonggaran, UMKM Bergeliat Ekonomi Membaik

KABUPATEN CIREBON, SC- Sejumlah pelonggaran aturan yang selama dua tahun terakhir diterapkan sebagai upaya penanganan pandemi Covid-19, membawa dampak kondisi ekonomi yang kembali bergairah. Kondisi ekonomi yang semakin membaik juga dirasakan pada level Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Hal itulah yang kini dirasakan, Daryanti (62), perajin rotan di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. Ia mulai kembali beraktivitas setelah sempat dua tahun lebih mandeg akibat pandemi Covid-19.

Daryanti yang merupakan perajin rotan lepas (mengerjakan kerajian rotan di rumah bukan di pabrik) tidak sendirian. Daryanti dan para perajin lainnya kini kembali bisa mencari penghasilan tambahan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA: Minyak Goreng Langka, Pelaku UKM Meradang

“Lumayan, sekarang sudah bisa kembali membuat keranjang dari rotan lagi. Mulai lancar lagi sejak awal tahun kemarin,” ujar Daryati, Minggu (20/3/2022).

Ia mengaku, meski pekerjaan membuat anyaman rotan itu hanya sebatas sampingan, namun kegiatan tambahan tersebut dirasa sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Hanya sampingan saja sih, sambil mengisi waktu luang daripada nganggur,” kata dia.

BACA JUGA: Pelaku UMKM Desa Kalitengah Terima Sertifikat Gratis

Jika hanya mengandalkan penghasilan keseharian dari aktivitasnya sebagai buruh tani, ia mengaku penghasilan dari bertani masih belum mencukupi. Sehingga penghasilan dari membuat kerajinan rotan pun dinilai cukup bisa membantu kebutuhan hidup bersama seorang anaknya.

“Dalam sehari saya hanya mampu membuat minimal 3 sampai 5 keranjang rotan, itupun dibantu anak saya,” ungkapnya.

Diterangkannya, untuk satu keranjang hasil anyamannya dihargai oleh pengepul Rp8 ribu. Uang dari pengepul tersebut bisa diambil setiap minggunya.

BACA JUGA: Bantu UMKM, Dosen UMC Ciptakan Mesin Roasting Kopi Tenaga Surya

“Bisa diambil per minggu, hasilnya bisa sampai Rp300 ribu,” tuturnya.

Sementara itu, perajin lainnya dari desa setempat, Abdul Walik (35 tahun) mengaku bisa mendapatkan penghasilan lebih dari membuat anyaman rotan tersebut. Hanya saja, ia mengaku tidak tahu persis penyebab bisnis kerajinan dan fornitur vakum selama pandemi. Namun dampak ekonomi bisa dirasakan dari sisi penghasilan.

“Bisa jadi karena jarang yang beli kerajinan karena saat pandemi masyarakat minim penghasilan sehingga yang dibeli barang barang kebutuhan yang dianggap penting saja. Saya sih hanya berharap kepada pemerintah untuk bisa menjaga kestabilan ekonomi sehingga ekonomi bisa terus tumbuh,” ungkapnya. (Islah)

Comment