SUARA CIREBON – Tahun 2025 diprediksi akan menjadi tahun-tahun yang mencemaskan bagi kalangan kelas menengah di Indonesia.
Kelas menengah berada dalam posisi sangat sulit. Terjepit oleh inflasi yang makin tinggi, banyaknya beban pungutan dari pemerintah, serta makin sulitnya mencari pendapatan.
Bahkan gaji yang telah mereka peroleh, secara fungsional akan tergerus oleh beban pengeluaran makin besar akibat inflasi dan berbagai pungutan dari pemerintah.
“Kalau dicermati ada banyak paradok dari kebijakan pemerintah.Di satu sisi populis dengan makan bergizi gratis, menaikan gaji guru, menaikan UMK, penghapusan utang UMKM, namun pajak-pajak dinaikan seperti PPN 12 persen,” tutur pemerhati kebudayaan, Jeremy Huang Wijaya,Jumat 13 Desember 2024.
Menjadi kelas menengah saat ini bukanlah menyenangkan. Tahun depan, akan ada banyak kelas menengah yang tergelincir ke bawah.
“Terutama kelas menanah swasta.Nyaris tidak ada kebijakan isentif pemerintah khusus kepada kelas menengah yang rentan ini,” tutur Jeremy Huang.
Penghapusan hutang UMKM dan berbagai bentuk bantuan sosial (bansos), lebih ditujukan kepada masyarakat bawah.
Kenaikan gaji guru dan PNS atau ASN, lebih ditujukan kepada pegawai pemerintah yang tidak menyentuh sama sekali kalangan swasta.


















