SUARA CIREBON – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun telah melakukan evaluasi internal terkait penurunan jumlah kunjungan pasien tahun ini.
Dari evaluasi tersebut diketahui, masalah utama yang menyebabkan penurunan kunjungan di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Cirebon ini adalah berawal dari proses rujukan.
Evaluasi telah dilakukan, jauh sebelum sejumlah pihak menyebut penyebab penurunan kunjungan akibat tidak munculnya nama RSUD Arjawinangun di dalam sistem rujukan berbasis Primary Care Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (PCare BPJS) Kesehatan.
Direktur RSUD Arjawinangun, dr H Bambang Sumardi mengatakan, setelah mengetahui masalah utama penyebab penurunan kunjungan ke RS Arjawinangun, pihaknya bergerak melakukan penelusuran dengan meminta keterangan dari pihak di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Dari penjelasan sejumlah FKTP diketahui, penurunan kunjungan ke RSUD Arjawinangun bukan karena masyarakat tidak mau memeriksakan kesehatan di rumah sakit plat merah.
Karena faktanya, ketika masyarakat mengakses rujukan di FKTP, tidak muncul nama RSUD Arjawinangun. Di dalam rujukan FKTP tersebut, yang muncul adalah fasilitas kesehatan (faskes) lain.
Sehingga, masyarakat yang ingin memeriksakan kesehatan atau berobat ke RSUD Arjawinangun harus merelakan berobat di tempat yang tidak diinginkan, yakni di rumah sakit yang sistemnya diatur oleh BPJS.
“Ini yang menjadi kendala, sehingga sistem rujukan yang seyogyanya harus mementingkan kebutuhan masyarakat, dicederai,” kata Bambang Sumardi, Selasa, 1 Juli 2025.



















