SUARA CIREBON – Banjir di Cirebon. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Cirebon, sejak Senin, 18 Mei 2026 siang hingga malam, mengakibatkan Bendungan Surakatiga di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan meluap. Kondisi tersebut menyebabkan ribuan rumah di delapan desa Kecamatan Waled, terendam banjir.
Selain ribuan rumah warga, banjir juga merendam ratusan hektare lahan pertanian di kawasan tersebut.
Bagi masyarakat setempat, banjir seolah menjadi rutinitas tahunan. Mereka seakan berlangganan banjir setiap kali musim penghujan tiba. Kondisi tersebut, tidak hanya menimbulkan trauma tapi juga telah menghantui masyarakat di wilayah terdampak.
Ketua Forum Komunikasi Kuwu Cirebon (FKKC) Kecamatan Waled yang juga Kuwu Waled Kota, Afiat mengatakan, berbagai upaya penanganan yang sudah dilakukan pemerintah daerah, sejauh ini dinilai belum memberikan hasil maksimal. Terbukti, ancaman luapan air terus membayangi keselamatan dan kenyamanan warga sepanjang tahun.
Menurut Afiat, setidaknya ada delapan desa terdampak banjir paling parah yakni Desa Ciuyah, Ambit, Mekarsari, Gunungsari, Karangsari, Cikulak Kidul, Cibogo, dan Desa Cisaat.
Hingga Selasa, 19 Mei 2026 siang, banjir di sejumlah titik desa terdampak belum juga surut. Di beberapa titik ketinggian air mencapai hampir 1 meter. Hal itu, membuat aktivitas warga sepenuhnya terhenti dan banyak warga yang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
“Sebenarnya Pemerintah Kabupaten Cirebon dan pihak-pihak terkait telah berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pekerjaan penyodetan sungai hingga normalisasi saluran. Namun, hasilnya belum terasa signifikan,” kata Afiat, Selasa, 19 Mei 2026 siang,
Menurutnya, penanganan banjir di Kecamatan Waled tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemampuan pemerintah daerah. Diperlukan langkah penanganan yang bersifat terpadu dan menyeluruh yang melibatkan tiga tingkatan pemerintahan, yaitu Pemerintah Kabupaten Cirebon, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga Pemerintah Pusat.
“Selain perbaikan infrastruktur, perubahan pola hidup masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan juga menjadi kunci penting agar masalah ini tidak terus berulang setiap tahunnya,” ujar Afiat.
Sementara, Kuwu Cibogo, Ahmad Hudori, menyampaikan keprihatinannya atas dampak banjir kali ini, yang merendam ribuan rumah warga di delapan desa tersebut. Ia menyebut dari delapan desa yang terdampak terdapat empat desa yang kategori paling parah yakni, Desa Ambit, Ciuyah, Gunungsari dan Desa Mekarsari.
“Di Desa Cibogo air mulai memasuki pekarangan dan rumah warga sejak pukul 04.00 WIB dini hari dengan ketinggian yang terus bertambah dengan cepat,” kata Ahmad Hudori.
Pria yang akrab disapa Ahud ini menilai, penanganan banjir di Kecamatan Waled harus segera mendapat perhatian serius dan intervensi langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia menyerukan agar Pemerintah Provinsi segera mengambil langkah cepat dengan memfasilitasi pertemuan antara pemerintah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon.
“Pertemuan tersebut dinilai sangat krusial untuk mencari solusi yang tepat, cepat, dan tegas demi mengakhiri masalah banjir tahunan ini,” tegasnya.
Ahud menilai akar permasalahan banjir di Waled tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan yang turun di wilayah Cirebon saja, melainkan juga dipengaruhi oleh air kiriman yang berasal dari Kabupaten Kuningan. Posisi geografis Waled yang berada di hilir membuat wilayah itu menjadi daerah penampung aliran air dari wilayah hulu.
“Tanpa campur tangan langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mustahil masalah banjir Waled ini akan teratasi tuntas. Apalagi di tengah kondisi efisiensi anggaran saat ini, kemampuan daerah sangat terbatas. Apakah kondisi ini akan terus dibiarkan begitu saja setiap tahunnya?” tanya Ahud.
Warga setempat pun mendesak pemerintah untuk mempercepat normalisasi sungai, perbaikan menyeluruh pada infrastruktur bendungan dan tanggul, serta pembangunan gorong-gorong dan saluran pembuangan dengan kapasitas memadai.
Selain perbaikan fisik, masyarakat juga menuntut adanya mekanisme koordinasi lintas wilayah yang lebih kuat dan terstruktur sebagai bentuk mitigasi jangka panjang. Hal ini agar kerugian materiil maupun gangguan aktivitas akibat banjir tidak lagi menjadi pemandangan rutin yang harus ditanggung oleh ribuan warga di Kecamatan Waled.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















