SUARA CIREBON – Dampak perubahan iklim mulai dirasakan sekolah-sekolah yang berada di kawasan pesisir Kabupaten Cirebon, salah satunya SDN 3 Ambulu di Kecamatan Losari. Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah sekolah kerap tergenang banjir rob. Kondisi tersebut membutuhkan solusi yang tepat, agar para murid tidak menjadi pihak yang dirugikan.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan refleksi para mitra Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan Australia-Indonesia atas kolaborasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon di salah satu hotel, Kecamatan Kedawung, Rabu-Kamis, 3-4 Juni 2026.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai tantangan yang dihadapi sekolah pesisir akibat perubahan iklim, sekaligus mencari solusi berbasis riset untuk mengatasi persoalan dibahas serius.
Seperti diketahui, posisi SDN 3 Ambulu yang berada di kawasan pesisir kerap terdampak banjir rob, cuaca ekstrem, serta ketidakpastian penghasilan keluarga nelayan yang berpengaruh terhadap kehadiran dan konsentrasi belajar siswa.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida Kabupaten Cirebon, Eva Musyaerofah, mengatakan, persoalan tersebut memerlukan penanganan lintas sektor agar solusi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami mendorong kebijakan berbasis data, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak nelayan,” kata Eva.
Sementara, Peneliti UPI, Dr. Irena, menjelaskan, dampak perubahan iklim saat ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan pendidikan anak-anak.
“Layanan pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Situasi di SDN 3 Ambulu menunjukkan bahwa dampak iklim sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SDN 3 Ambulu, Syaotun, mengungkapkan, sekolahnya menghadapi berbagai tantangan akibat kondisi lingkungan pesisir. Selain infrastruktur yang terdampak banjir rob, tingkat kehadiran siswa juga kerap menurun ketika cuaca memburuk.
Meski demikian, ia optimistis kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah daerah, dan peneliti dapat menghasilkan langkah yang lebih efektif dalam mengatasi persoalan tersebut.
“Kami berharap ada solusi yang lebih terencana dan berkelanjutan,” ucap Syaotun.
Ia mengatakan, wilayah pesisir memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada sektor perikanan dan hasil laut membuat dampak tersebut turut memengaruhi akses dan kualitas pendidikan anak-anak.
Syaotun mengusulkan sejumlah langkah strategis, antara lain penyesuaian kalender akademik di wilayah terdampak, pengembangan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, serta penguatan materi perubahan iklim dalam proses pembelajaran di sekolah.
Melalui kolaborasi antara UPI, Bapperida Kabupaten Cirebon, dan para mitra INOVASI, diharapkan lahir berbagai rekomendasi kebijakan dan model penanganan yang dapat diterapkan tidak hanya di Kabupaten Cirebon, tetapi juga di daerah pesisir lainnya yang menghadapi tantangan serupa.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















