SUARA CIREBON – Industri furnitur dan kerajinan rotan sintetis menjadi salah satu sektor yang terdampak lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus angka Rp17.997,05. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menyebabkan harga bahan baku rotan sintetis menanjak naik.
Pelaku ekspor furnitur rotan sintetis asal Cirebon, Vladimir Dicky Santoso mengatakan, penguatan dolar AS berdampak negatif pada biaya operasional. Faktor utama yang menyebabkan hal tersebut, karena industri masih bergantung pada komoditas impor untuk bahan baku sintetis.
Menurut Vladimir, meroketnya harga bahan baku impor dan anjloknya permintaan global hingga 50 persen membuat para pelaku ekspor terancam gulung tikar.
“Kita beli bahan baku naiknya gila-gilaan. Bahan baku seperti rotan sintetis berbasis biji plastik yang murni impor, harus dibeli dengan harga tinggi karena kenaikan yang sudah mencapai 100 persen. Begitu juga dengan busa untuk cushion (bantal untuk kursi, red),” ujar Vladimir, Kamis, 11 Juni 2026.
Ironisnya, lanjut Vladimir, produk furnitur sintetis Indonesia kini telah kehilangan taji di pasar internasional. Selain lonjakan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi ini diperparah oleh posisi tawar pembeli (buyers) luar negeri yang memanfaatkan situasi pelemahan rupiah untuk menekan harga jual.
“Sebelum rupiah melemah saja, kita sudah kalah harga dari Vietnam yang skala pabriknya lebih besar dan profesional. Produk sintetis kita benar-benar sudah tidak bisa berkompetisi lagi,” kata Vladimir.
Untuk dapat bertahan, dirinya memutar haluan dengan memangkas produksi furnitur sintetis dan mengalihkan strategi ke produk berbahan rotan alami (natural). Langkah penyelamatan ini diambil lantaran pasokan rotan alami domestik relatif melimpah dan tidak terdampak fluktuasi kurs secara langsung.
“Meski tren pasar global mulai kembali melirik produk natural, namun volume pasar furnitur natural tidak seluas furnitur sintetis outdoor, sehingga belum mampu menutup seluruh kerugian perusahaan,” katanya.
Menurutnya, kondisi industri furniture kini semakin mengkhawatirkan akibat lesunya ekonomi global pascakonflik dagang geopolitik. Berdasarkan data lapangan, volume permintaan ekspor tahun ini menurun hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ini efek berantai yang panjang sejak perang dagang AS, sehingga permintaan dari luar negeri sangat rendah,” jelasnya.
Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha mengurangi pemanfaatan jasa perajin lokal di sekitar pabrik. Akibatnya, sektor ketenagakerjaan di tingkat akar rumput pun mulai menerima hantaman.
Pihak eksportir menilai, sentuhan dan sabuk pengaman dari pemerintah terhadap industri kreatif berorientasi ekspor masih sangat minim. Vladimir mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, terutama dalam menstabilkan nilai tukar rupiah di angka psikologis, Rp16.000.
Pelaku usaha juga mengkhawatirkan adanya kekakuan harga, di mana harga bahan baku di tingkat pemasok lokal tidak akan turun meskipun nantinya kurs dolar AS melandai.
Satu-satunya harapan eksportir kepada pemerintah saat ini adalah menstabilkan rupiah. Sebab ketika rupiah berada di kisaran Rp16.000, harga produk tersebut bakal kembali bisa berkompetisi di pasar global.
“Perlu juga ada komunikasi atau lobi antarnegara dari pemerintah dengan negara pemasok biji plastik untuk mengendalikan harga bahan baku ini,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















