SUARA CIREBON – Kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, telah berlangsung secara turun-temurun sejak masa Sunan Gunung Jati dan perkembangan awal Kesultanan Cirebon.
Selain menjadi hasil karya kriya, kerajinan tradisional khas Sitiwinangun itu juga merupakan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang mengandung nilai filosofis, semangat gotong royong, serta menjadi penopang ekonomi masyarakat melalui aktivitas para perajin.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Juju Juhariah, mengatakan, pelestarian Gerabah Sitiwinangun membutuhkan komitmen bersama agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Keahlian membuat gerabah di desa tersebut telah diwariskan secara turun temurun, sehingga tidak boleh dibiarkan meredup atau hilang ditelan zaman. Menurutnya, Sitiwinangun memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan desa wisata berbasis kriya yang unggul.
Pengembangan potensi tersebut memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media.
“Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media,” kata Juju, Senin, 1 Juli 2026.
Dari penguatan upaya pelestarian warisan budaya daerah yang dilakukan Disbudpar melalui seminar, diharapkan lahir pemikiran-pemikiran transformatif, rekomendasi kebijakan, serta jejaring kerja sama yang mampu mengangkat kembali kejayaan gerabah Sitiwinangun ke tingkat yang lebih tinggi.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, R Moh Al Bana, menyampaikan, gerabah tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berperan dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat. Di balik pembuatan gerabah ini, terdapat nilai gotong royong masyarakat sekitar yang sangat luar biasa.
“Tentu saja, pembuatan gerabah ini berkaitan erat dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar atau para pengrajinnya,” ujar Al Bana.
Menurut Al Bana, seminar diselenggarakan Disbudpar sebagai bagian dari upaya mengangkat kembali eksistensi Gerabah Sitiwinangun sekaligus memperkaya koleksi Museum Pangeran Cakrabuana.
“Koleksi gerabah tersebut juga akan menjadi bagian dari Museum Pangeran Cakrabuana yang terletak di sebelah timur gedung Disbudpar,” ungkapnya.
Melalui seminar tersebut, puhaknya berharap, Pemerintah Kabupaten Cirebon mendorong gerabah Sitiwinangun semakin dikenal luas sebagai identitas budaya daerah yang mampu berkembang menjadi destinasi wisata edukasi berbasis kriya. Selain itu, juga memberikan manfaat bagi pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















