SUARA CIREBON – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon merealisasikan pengangkutan sampah massal yang tersebar di sejumlah titik. Pengangkutan sampah tersebut dimulai dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Batik Weru, Kecamatan Weru.
Sedikitnya 11 armada pengangkut sampah dan satu unit alat berat jenis ekskavator diterjunkan untuk mempercepat proses pengurasan.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, mengatakan, pembersihan sampah di TPS tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dua hari. Menurut Dede, proses pembersihan terus dikebut dengan menambah jumlah armada secara bertahap. Total armada yang dikerahkan mencapai lebih dari 20 unit.
“Saat ini sudah 11 armada dan satu ekskavator bekerja di lokasi. Sampai penanganan tuntas, kemungkinan armada yang kami kerahkan mencapai lebih dari 20 unit,” ujar Dede, Kamis, 23 Juli 2026.
Dede menjelaskan, TPS Pasar Batik Weru bukanlah TPS liar. TPS tersebut merupakan lokasi resmi yang telah ditetapkan pemerintah desa sebagai tempat penampungan sementara sampah sebelum diangkut ke TPA.
“Kami meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa lokasi tersebut merupakan tempat pembuangan liar. Itu TPS resmi yang ditetapkan pemdes setempat,” tegasnya.
Tumpukan sampah yang menggunung di TPS tersebut terjadi akibat peningkatan volume sampah, sehingga kapasitas penampungan tidak lagi mampu mengimbangi jumlah sampah yang masuk setiap harinya.
Lonjakan tumpukan sampah ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas perdagangan di kawasan Pasar Batik Weru, pertumbuhan usaha kuliner, serta bertambahnya sampah rumah tangga.
Selain itu, perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih banyak membeli makanan siap saji turut meningkatkan produksi sampah, terutama jenis anorganik seperti plastik sekali pakai. Seluruh sampah yang diangkut dari TPS Pasar Batik Weru itu kemudian dibawa menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Gunung Santri.
Setelah penanganan di TPS Pasar Batik Weru selesai, DLH akan langsung mengalihkan armada untuk menangani penumpukan sampah di TPS Arjawinangun yang juga membutuhkan penanganan segera.
Menurut Dede, sekitar 50 persen timbulan sampah merupakan sampah organik yang masih memiliki nilai manfaat apabila diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dapat diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi industri semen.
Meski pengurasan terus dilakukan, Dede menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan sistem angkut dan buang. Solusi jangka panjang harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat melalui pemilahan sampah sejak dari rumah.
Ia berharap, percepatan pengurasan TPS yang saat ini dilakukan dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi penumpukan sampah.
Untuk keberhasilan pengelolaan sampah secara berkelanjutan, tetap bergantung pada kesadaran masyarakat dalam mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Sehingga kejadian serupa tidak terus berulang di berbagai wilayah Kabupaten Cirebon.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















