SUARA CIREBON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mengintegrasikan pelacakan kontak erat pasien tuberkulosis (TBC) dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mempercepat penemuan kasus dan menekan penyebaran penyakit menular tersebut.
Hingga Rabu (12/8/2026), program tracing yang dimulai sejak 3 Agustus itu telah menjangkau sekitar 4.100 warga. Jumlah tersebut melampaui sasaran awal sebanyak 3.200 orang.
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni, mengatakan pelacakan dilakukan terhadap keluarga, tetangga, maupun warga yang diketahui pernah melakukan kontak erat dengan pasien TBC.
“Hari ini ada tiga Puskesmas, yaitu Puskesmas Pangkalan, Plered dan Tengahtani. Masing-masing menyasar tiga desa, sehingga ada tambahan sembilan desa dengan sekitar 900 sasaran. Total sampai hari ini sekitar 4.100,” kata Eni saat kegiatan tracing TBC terintegrasi CKG di Desa Tegalsari, Kecamatan Plered, Rabu, 12 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.096 warga telah masuk dalam sistem. Data tersebut masih bertambah karena proses input dilakukan secara bertahap setelah pemeriksaan selesai.
Namun, hasil tracing sebelumnya di enam Puskesmas menemukan 158 orang terduga TBC. Temuan tersebut menjadi perhatian Dinkes karena menunjukkan pentingnya pelacakan aktif terhadap kontak erat pasien.
“Yang kita tracing ini adalah kontak erat, baik keluarga maupun tetangga yang pernah melakukan kontak dengan pasien. Dari tracing sebelumnya di enam Puskesmas ditemukan 158 orang yang terduga TBC,” ujarnya.
Eni memastikan warga yang terindikasi TBC tidak berhenti pada pemeriksaan. Mereka langsung diarahkan mendapatkan penanganan dan pengobatan di Puskesmas.
“Yang 158 terdeteksi TBC dari pemeriksaan kemarin langsung diintervensi, langsung diobati. Biasanya pengobatan enam bulan dan setiap bulan mereka kontrol ke Puskesmas,” katanya.
Pelacakan juga terus dilakukan terhadap keluarga dan kontak erat pasien, termasuk warga yang hasil pemeriksaan awalnya negatif. Dinkes menggunakan data by name by address untuk memastikan lingkungan sekitar pasien turut diperiksa.
“Karena kita sudah tahu by name by address-nya, nanti keluarga dan tetangganya yang pernah kontak akan diminta datang untuk diperiksa. Kalau tidak bisa datang ke Puskesmas, kita lakukan kunjungan,” kata Eni.
Dinkes melibatkan kader kesehatan untuk membantu menjangkau warga yang sulit datang ke fasilitas kesehatan. Dengan pola tersebut, temuan kasus baru dapat menjadi dasar untuk melakukan pelacakan lanjutan di lingkungan pasien.
Program tracing TBC terintegrasi CKG dijadwalkan berlangsung hingga November 2026 dengan target pelaksanaan di 462 titik, mencakup 412 desa dan 12 kelurahan di Kabupaten Cirebon. Setiap desa dan kelurahan dijadwalkan mendapat pelacakan sebanyak dua kali.
Menurut Eni, perluasan tracing berpotensi meningkatkan angka temuan TBC. Namun, kenaikan jumlah kasus yang ditemukan melalui deteksi aktif tidak otomatis menunjukkan kondisi penyakit semakin buruk.
“Keberhasilan program bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan pasien, tetapi juga memastikan pasien menyelesaikan rangkaian pengobatan sesuai ketentuan,” ujarnya.
Data penanganan TBC Kabupaten Cirebon tahun sebelumnya menunjukkan sekitar 50.000 orang diperiksa, dengan 4.296 orang dinyatakan positif dan menjalani pengobatan.
Dari jumlah tersebut, 1.069 orang tercatat sembuh, 2.301 orang menyelesaikan pengobatan, 540 orang putus berobat, 232 orang meninggal dunia, dan 10 orang mengalami gagal pengobatan. Selain itu, dua kasus belum dievaluasi dan 10 kasus belum memiliki hasil akhir karena datanya belum diinput.
Angka putus berobat menjadi salah satu tantangan Dinkes. Sebab, penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada kemampuan menemukan kasus, tetapi juga memastikan pasien menjalani pengobatan hingga selesai.
Kegiatan tracing TBC terintegrasi CKG di Desa Tegalsari tersebut ditinjau langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala.
Eni mengatakan integrasi tracing TBC dengan CKG memungkinkan pemeriksaan kesehatan masyarakat sekaligus menjadi pintu masuk untuk menemukan warga yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Dinkes Kabupaten Cirebon kini menitikberatkan penanggulangan TBC pada tiga langkah, yakni menemukan kasus secara aktif, mengobati pasien secepatnya, serta memastikan kontak erat menjalani pemeriksaan dan mendapatkan tindak lanjut.
“Dengan pola by name by address, kunjungan rumah, keterlibatan kader, pemeriksaan kontak erat dan pengobatan berkelanjutan, kami berupaya memastikan penanganan TBC tidak berhenti di ruang pemeriksaan, tetapi sampai ke lingkungan tempat penyakit tersebut berpotensi menular,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















