SUARA CIREBON – Penyatuan Haul Sunan Gunung Jati yang direncanakan berlangsung pada September 2026 didorong tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ketua Tim Perumus Haul Kanjeng Sunan Gunung Jati, KH Abdul Hayyi, mengusulkan agar agenda tersebut memiliki dasar hukum yang kuat dan menjadi perekat seluruh elemen Cirebon dalam jangka panjang.
Abdul Hayyi mengatakan, hasil musyawarah menetapkan penyatuan haul akan dirancang dalam tiga tahapan, yakni jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
“Jangka pendeknya, apabila ditetapkan nanti September, kita melakukan haul. Insyaallah September. Jangka menengahnya apa, nanti akan ditindaklanjuti setelah jangka pendek,” ujar Abdul Hayyi.
Menurutnya, agenda jangka panjang menjadi bagian terpenting karena diharapkan mampu menjadikan haul sebagai kegiatan bersama yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Pelibatan tersebut mencakup pesantren, keraton dan gugus keraton, akademisi, cendekiawan, budayawan, sejarawan, seniman, hingga unsur eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI dan Polri.
“Semua harus merasa bahwa itu haul kita semua. Sehingga haul bisa menjadi perekat,” tuturnya.
Abdul Hayyi juga membuka gagasan agar pelaksanaan haul dalam jangka panjang memiliki dasar hukum yang kuat. Dengan demikian, agenda tersebut tidak bergantung pada siapa yang sedang menduduki jabatan kepala daerah maupun pejabat lainnya.
“Siapa pun Bupatinya, siapa pun Wali Kotanya, siapa pun Danremnya dan seterusnya, maka haul telah ditetapkan. Bisa untuk jangka panjangnya di-Perda-kan,” tandasnya.
Ia menegaskan, makna haul tidak boleh sebatas kegiatan seremonial untuk mengenang wafatnya Sunan Gunung Jati. Nilai-nilai yang diwariskan Sunan Gunung Jati, menurutnya, perlu diterjemahkan lebih luas dalam kehidupan masyarakat.
Salah satunya melalui wasiat Sunan Gunung Jati, “Ingsun titip tajug lan fakir miskin”. Pesan tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga menyentuh persoalan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Karena itu, penetapan tanggal haul secara permanen membutuhkan kajian sejarah yang komprehensif. Kajian tersebut tidak cukup hanya mengandalkan satu kelompok atau perspektif.
“Tidak hanya dari kiai, tidak hanya dari sejarawan, tidak hanya dari budayawan, tetapi dari semua elemen. Termasuk bukti-bukti otentiknya,” paparnya.
Haul Bersama Dirancang September 2026
Pemerintah Kabupaten Cirebon saat ini tengah merumuskan penyatuan Haul Kanjeng Sunan Gunung Jati secara akbar. Agenda tersebut direncanakan melibatkan daerah lain yang memiliki keterkaitan dengan Cirebon.
Pembahasan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari budayawan, unsur pemerintah, kalangan pesantren, hingga keraton. Sebagai langkah awal, haul bersama direncanakan digelar pada September 2026, meski masih membutuhkan musyawarah lanjutan.
Abdul Hayyi menegaskan, pembahasan penyatuan haul harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan tidak berhenti sebagai wacana.
“Kita tidak hanya menjadi inspirator, tidak hanya menjadi inisiator. Kita harus juga menjadi eksekutor. Kalau tidak dieksekusi, kapan haulnya?” tegasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















