by

PIAUD IAIN Cirebon Terus Tingkatkan Kualitas, Lulusannya tidak Hanya Bisa jadi Guru Loh!

CIREBON, SC- Melihat perguruan tinggi lain yang menjadi kompetitor dan membuka jurusan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon yang dalam waktu dekat ini akan bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) terus meningkatkan kualitas lulusannya.

Hal itu seperti diungkapkan Ketua Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr Asep Mulyana, MPd, Rabu (3/3/2021).

Dia mengungkapkan, persaingan yang ada tersebut membuat pihaknya terus meningkatkan kualitas mahasiswa maupun lulusan IAIN Syekh Nurjati Cirebon agar lebih profesional. Hal itu terutama terhadap skill maupun keahliannya.

“Karena ijazah sendiri sekarang ini itu sudah ada Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Selain untuk mengembangkan sisi profesionalisme yang berkaitan dengan skill keilmuan PIAUD juga dibekali dengan keterampilan di bidang yang dikuasai alumni dan ini jadi program unggulan kita,” jelas Asep.

Pasalnya, ungkap dia, lulusan PIAUD tersebut tidak hanya dapat menjadi pendidikan di PAUD. Tetapi juga bisa menjadi asisten peneliti maupun relawan yang kemudian dituntut untuk dapat mengembangkan media pembelajaran.

“Oleh karena itu kami mendorong alumni PIAUD (IAIN Syekh Nurjati Cirebon) itu penyelesaian akhir skripsinya itu berorientasi pada riset dan pengembangan,” paparnya.

Untuk itu, pihaknya pun terus berusaha menghasilkan produk yang secara ekonomi bisa dikomersilkan. Kemudian, lanjut Asep, adalah mengadakan kerja sama dengan berbagai stakeholder. Terlebih hal itu merupakan tuntutan dari Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.

BACA JUGA: Jadi Sasaran Vaksinasi Tahap 2, Pegawai IAIN Cirebon Didata

“Ada semacam kolaborasi dari semua perguruan tinggi dan juga lembaga-lembaga atau di elemen masyarakat, di antaranya mahasiswa harus menyelesaikan paling tidak 2 semester di luar perguruan tinggi,” terangnya.

Untuk mengembangkan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka ini, Asep memaparkan, paling tidak ada 8 poin yang harus dijadikan sebagai tempat untuk mengembangkan minat dan bakat di lembaga penelitian. Tidak hanya itu, bahkan ada pengabdian di masyarakat dan di desa-desa terpencil untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah di luar kampus.

“Tentu yang 2 semester ini di luar perguruan tinggi. Ini digunakan untuk memerkuat skill yang terkait dengan ke-PAUD-an. Terkait dengan tuntutan yang ada di masyarakat. Kemudian ada magang di perusahaan-perusahaan,” paparnya. (Arif)

Comment