by

Pemkot Belum Berlakukan Buka Tutup Jalan Protokol

KOTA CIREBON, SC– Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon belum juga memberlakukan buka tutup sejumlah jalan protokol di Kota Cirebon, guna mengantisipasi adanya kerumunan orang di pusat pembelanjaan.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Cirebon, Andi Armawan mengatakan, penanganan akan lebih ditekan pada internal pengelola pusat pembelanjaan. Selain itu, diintensipkan patroli gabungan antara dishub, Satpol PP dan Polri.

“Patroli ini nanti sifatnya mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan, begitu juga dengan para pengelola, harus menegur dan membatasi pengunjung,” kata Andi, Selasa (4/5/2021).

Seperti diketahui, pada akhir pekan yang lalu, serta beberapa hari terakhir ini, jalan protokol yang di dalamnya terdapat sejumlah area pusar perbelanjaan dan pusat perniagaan, dipadati kendaraan. Tidak hanya kendaraan warga lokal, tapi dari daerah sekitar.

Andi menjelaskan, jika tahun lalu ketika diberlakukan PSBB pada masa mendekati Lebaran, sejumlah ruas jalan protokol diberlakukan buka tutup pada jam-jam tertentu. Namun, untuk masa-masa jelang Lebaran tahun ini langkah tersebut belum akan diambil.

“Kita belum ke arah situ (buka tutup jalan). Karena situasinya memang tidak bisa dipungkiri kawasan perniagaan di Kota Cirebon menjadi tujuan orang dari daerah sekitar. Apalagi, ketika masuk H-2. Tapi mungkin sewaktu-waktu bisa direkayasa dalam bentuk lain,” ujar Andi.

BACA JUGA: Pekerja Media Lolos Pengetatan Larangan Mudik

Menurutnya, pengalaman beberapa kali dilaksanakan pemberlakuan buka tutup jalur di jam-jam tertentu juga dirasa tidak efektif. Karena warga akan mencari jalan alternatif lain, yang justru membuat ruas jalan alternatif lain menjadi padat bahkan mengalami kemacetan.

“Yang akan dilakukan mengoptimalkan patroli gabungan, atau bisa ditunjuk petugas dari masing-masing dinas TNI Polri. Atau dengan mengimbau ke kepala pasar, pengelola pusat perbelanjaan untuk menerapkan prokes yang ketat di tempat yang dikelolanya,” ujar dia.

Misalnya, yang paling penting adalah mengatur atau membatasi jumlah pengunjung hanya 50 persen dari kapasitas daya tampung tempatnya.

“Kalau untuk mendisiplinkan pemakaian masker, sepertinya terpantau sudah ada peningkatan  kepatuhan. (Surya)

Comment